Social Icons

.

Friday, August 22, 2014

WISATA RELIGI


Bismillahirohmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullahhiwabbarokatuh.
Kami bersyukur ke khadirat ALLAH SWT dan NABI MUHAMMAD SAW atas segala limpahan rahmat dan hidayah-NYA yang diberikan terhadap kami sehingga terbentuknya AL-Safaro Guides Tourism yaitu Sarana untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah.
Pulau lombok adalah pulau kecil namun di dalamnya terkandung Kekayaan dengan Keanekaragaman Budaya Tradisional SASAK Lombok dan Objek-objek Wisata Alam yang masih terjaga kealamiannya.
Selain itu kami juga ingin mengenalkan Objek-objek Wisata Religi  bagi para wisatawan yang senang berkunjung atau Berziarah ke Makam-makam para tokoh-tokoh Besar penyebar agama Islam khususnya di Pulau Lombok.
Al-Safaro Guides Tourism selain Sarana untuk mempererat jalinan silaturrahim juga sebagai wadah untuk menggali informasi mengenai sejarah agama islam yang masih terselimuti dengan Nuansa Religi.
Dengan penuh kerendahan hati kami sebagai insan manusia yang tak lepas dari Kesalahan dan Khilaf, Kami selaku keluarga Al-Safaro Guides Tourism menghaturkan banyak-banyak Maaf ke khadirat Allah swt dan Nabi Muhammad saw serta kepada para pengunjung BLOK Al-Safaro Guides Tourism kiranya ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan atau memberikan informasi menyangkut Program kami ini karena sesungguhnya KESEMPURNAAN hanya milik ALLAH SWT.
Kami sangat senang dan berterimakasih banyak menerima jika kiranya ada Kritik ataupun Saran yang ingin anda sampaikan khususnya ke keluarga Al-safaro Guides Tourism mengenai Program kami ini karena kami juga masih dalam tahap belajar sehingga sangat membutuhkan banyak masukan untuk kelancaran jalanya Program kami ini dan Kami berharap ke khadirat Allah swt semoga  Al-Safaro Guides Tourism kedepannya menjadi salah satu Program yang dapat diminati para wisatawan baik dalam lebihnya Luar Negeri. Amin

Pendahuluan



Banyaknya peziarah yang datang berziarah ke Makam Ketaq-tempat dimakamkanya Almarhum Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Sholeh atau Tuan Guru Lopan yang mengajukan permintaan untuk diberikan semacam kenang-kenangan atas perziarahannya ke makam beliau menyebabkan pihak keluarga almarhum berpikiran bahwa yang paling tepat untuk kenang-kenangan tersebut adalah tulisan yang berisikan kiprah kehidupan beliu sebagai seorang Ulama’sekaligus seorang tokoh sosial kemasyarakat di Pulau Lombok dengan berbagai aktivitas. Lebih-lebih para peziarah yang datang dari luar daerah seperti dari Banjarmasin, Banyuwangi, Banten, Jakarta dan daerah lainnya.

Di harapkan tulisan ini juga berfungsi sebagai upaya mengenang dan melestarikan jasa-jasa beliau hingga dapat dijadikan suri tauladan akan ketulusan, keikhlasan, dan ketidakpamrihan beliau dalam berdakwah menyuburkan pelaksanakan syariat Islam dikalangan para penganutnya. Perlu kita ketahui bahwa kiprah beliau bukan semata di bidang agama ( Islam ) tapi yang tak kalah pentingnya berbarengan dengan itu adalah upaya dibidang kesejahteraan sosial masyarakat Sasak dengan membangun mbung-mbung  (dam/bendungan) yang berskala kecil maupun cukup besar (Ukuran swadaya masyarakt kewtika itu) disamping juga merintis Pembuatan Jalan dan Jembatan, melakukan Penghijauan  diberbagai kebun-kebun milik rakyat maupun kawasan hutan di Pulau Lombok.

 
TUAN  GURU HAJI LALU MUHAMMAD SHOLEH (TGH LOPAN)































Ayahandanya Hijrah Karena Muatan Politik

Ayahandanya bernama Lalu Adis alias Mamiq Gurnita, Ibundanya bernama Baiq Pon, putri dari Raden Purwana – Kampung Banjar Praya (Banjar Getas?). Lalu Adis sendiri lahir di Kampung Balung-Adang (Jl. Basuki Rahmat-Praya sekarang). Dalam usia muda Lalu Adis Hijrah ke Lopan karena terkait dengan situasi dan kondisi politik. Keamanan wilayah sering terganggu di Perbatasan Praya-Kopang-Mantang karena politik yang dijalankan kerajaan Karang Asem Singasari  yang menguasai bagian barat Pulau Lombok untuk memperluas wilayah kekuasaannnya. Ditempat tersebut (yang akhirnya dikenal dengan nama Lopan) Lalu Adis bersama sejumlah pasukannya yang mengawal perbatasan, akhirnya menetap. Kampung itulah yang hingga kini kita kenal dengan sebutan LOPAN.
Belum tertelusuri terlampau jauh keatas silsilah keturunan beliau mengingat terbatasnya sumber yang ada. Hanya saja seperti yang disampaikan oleh Lalu Ratmawa ( H.Lalu Abdul Azim-Praya ), Mamiq Kamalah dan H.Lalu Najwa – Lopan yang telah diriwayatkan oelh pendahulu-pendahulunya, bahwa Datu Panang merupak keturunan dari Datu Bayan merupakan yang memilih menetap di Praya (Gawah Brora). Konon beliu bersaudara 3 (Tiga) orang laki-laki. Seorang tinggal di Bayan (yang terbesar), lalu yang kedua yakni Datu Panang – di Praya dan yang paling bungsu akhirnya menetap di Mambalan – Gunungsari (Wawancara, 25-11-2000).
Sebuah cerita konyol terjadilah; Setelah beberapa lama beliau meninggal karena sakit, ( pasca Perang Praya I) satu pasukan dari salah satu wilayah desa Muncan – Kopang pro Karang Asem Singasari Cakranegara ketika meliwati Makam Ketaq, Melepaskan kemarahannya pada satu nisan makam Lalu Adis yang dipenggalnya dengan Pedang. Konon mereka melampiaskan kekesalan karena telah berbagai upaya mereka lakukan untuk mengalahkan Lalu Adis (Ayahanda Tuan Guru Lopan) dalam berbagai pertempuran namun beliu adalah lawan yang tetap tangguh. Sembari menghantam batu nisan tersebut mereka berkata: “Inilah  kuburan orang Praya yang senantiasa mengobrak-abrik pasukan kopang!”, katanya. Sampai sekarang ini, batu nisan yang terbuat dari batu Granit itu terpotong kepalanya.
Makam Lalu Adis di Montong Ketaq merupakan sejarah awal penggunaan bukit tersebut sebagai areal pemakaman tempat dimakamkannya Tuan Guru Lopan sekarang, Makam beliau berdampingan dengan makam Ayahnya (Lalu Adis ). Montong Ketak termasuk areal tanah pusaka milik sendiri. Adapun silsilah keturunan beliau yang diambil dari tiga Generasi Diatasnya dapat dilihat pada Gambar Berikut:
                                                                                                                     







Tampak Luar Pintu Masuk Makam
Tidak banyak yang mengetahui nama aslinya Lalu Durma *) atau Mamiq Mahmud sebab beliau setelah dikenal masyarkat luas sebagai seorang Ulama' yang Wara' (Ciri-ciri Waliyullah), sebutan TGH.Lalu Muhammad Sholeh pun jarang terdengar atau disebut oleh Sebagian besar Masyarakat Umum. Beliau lebih populer dengan sebutan Tuan Guru Lopan. Durma, adalah nama salahsatu jenis Tembang yang oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok cukup dikenal sebagai sebuah Tembang yang mengandung nilai perjuangan. Apakah karena ayahanda beliau pengagum Tembang Durma hingga beliau diberinama "DURMA"?, Tak ada yang tahu pasti. Durma dalam bahasa Sasak (Karena pengaruh dialek dan ideolek) juga bisa berarti derma/amal (Bedurma = beramal).
Untuk mencapai Makam Ketaq, kita dapat menempuh beberapa jalur menggunakan Jalur Jalan Raya. Bagiyang datang dari kota Praya atau Mantang (Batukliang) menempuh jalur jalan Praya-Mantang, Begitu sampai de desa Bodak, belok ke kanan mancapai desa Muncan lalu dari pertigaan Muncan belok ke kanan kira-kira 1,5 - 2 Km akhirnya tibalah kita di Makam Ketaq.

 
Tangga Awal Masuk Makam Ketak
 
Tangga ke dua Lokasi Makam


Tampak Bangunan Makam Dari Luar

Di balik pintu itulah tempat peristirhatan TGH Lopan beserta Orang Tua dan kedua Istrinya sedangkan diluar adalah Makam Sanak Saudara Beliau.
Tampak Para Peziarah melakukan Do'a dan Dzikir
Lokasi Parkir Kendaraan Makam Ketak

DAKWAH dan SASARAN UTAMANNYA



Sebagai besar dari Pulau Lombok yang mengetahui kiprah TGH. Lopan mengemukakan bahwa sasaran utama dakwah Islam TGH. Lopan adalah para penganut ajaran islam yang masih belum sempurna yang di Pulau Lombok lebih dikenal dengan sebutan “Islam Waktu Telu”.

Pada saat itu, masyarakat Sasak (Yang menganut faham Islam Waktu Telu) pada umumnya membedakan dua faham Islam. Islam waktu lima karena menunaikan shalat Lima Waktu. Sementara Islam Waktu telu (jika hanya shalat yang menjadi barometernya) berarti mereka shalat hanya Tiga Waktu. Padahal kenyataannya tidak demikian, yang menunaikan shalat dalam kepercayaan Waktu Telu hanya kyai (pemimpin/pemuka agama) nya saja. Ini pun terbatas pada waktu-waktu tertentu, yang bukan kyai TIDAK melaksanakan SHALAT apapun. Dalam pemahaman yang sangat terbatas, mereka mengakui AL-Qur’an dah Hadist. Selebihnya, ilmu agama yang didapat dari tulisan-tulisan yang ada dalam Lontar yang umumnya berisi Fikh, Usulfikh dan Tasawuf yang bertuliskan aksara (yang biasa disebut jejawan atau huruf ceraka). Bahayanya; karena pemahan mereka tentang ilmu Islam sangat terbatas harus belajar Usul Fikh dan Tasawuf dari tulisan-tulisan beraksara Jejawan (Ceraka) denga uraian yang pelik dan berbelit; mereka sulit memaknakanya. Lam kelamaan faham mereka semakin jauh dari ajaran islam yang sebenarnya. Lalu, urusan agama yang berhubungan dengan ibadah, diserahkan kepada kyai saja, Urusan agama sepenunhya tanggung jawab kyai sedangkan urusan yang berhubungan dengan Upacara-upacara Adat dan Ritual lainnya (yang lebih dekat kepada Budha dan Animisme) merupakan tanggung jawab Mangku, (Pemangku Adat). Mereka punya tempat-tempat pemujaan / Upacara Ritual Adat yang dibaurkan agama yang disebut “Kemaliq”.


Teknik Berdakwah



Teknik dakwah yang dilakukan TGH Lopan sangat sederhana jika kita hubungkan dengan  berbagai Pola. “Teknik Jemput Bola” istilah yang populer sekarang, Adalah sebuah  teknik yang sangat langka yang sangat-sangat langka ketika tahun-tahun beliau berdakwah  (1266-1361 H) (1847-1942 M), dalam kurun waktu kurang lebih 95 Tahun dari 123 tahun usia beliau. Kebanyakan Ulama ketika itu di datangi murid-muridnya. Termasuk paman beliau sendiri yakni Lalu Ahmad Alias TGH.Muhtar yang mengajar/membuka pengajian dirumah beliau sendiri di Kampung Balung Adang-Praya. Kita sebut demikian karena dari kampung ke kampung, dari desa ke desa yang merupakan basis Islam Waktu Telu di Pulau Lombok ini pernah di datangi beliau. Sarana transportasi yang ada sangat minim yakni Kuda. Selebihnya berjalan kaki, Umumnya orang menjadi kenal beliau di tiap dusun dan desa yang didatangi, bermula dari berbagai kejadian atau peristiwa berbarengan dengan keberadaanya disana. Selain itu memulai cerita dari mulut ke mulut di kampung-kampung dan desa yang dde desa terdekat yang di huni orang yang mengenal beliau sebagai seorang ulama’ yang Waliyullah. Setiap orang yang menjumpainya entah dijalan atau didusun/kampung yang singgahinya, pada umumnya mereka berebut untuk bersalaman (Bersilaturrokhim), Sekalipun beliau berada diatas punggung kuda.



Sejumlah Masjid dan Langgar (Santren/Mushalla) Yang Diprakarsainya

Pada mulanya, tidak semua bangunan dimulai dengan bangunan yang berfungsi untuk masjid tetapi banyak pula untuk sekedar sebagai langgar (Santren/Mushalla). Namun dewasa ini karena pertumbuhan dan perkembangan manusia yang memerlukan sarana ibadah yakni masjid di Pulau Lombok khususnya (yang berpredikat sebagai Pulau Seribu Masjid), hampir semua langgar (Santren/Mushalla) yang beliau rintis telah ditingkatkan menjadi masjid oleh warga masyarakat setempat. Begitu banyak masjid yang beliau dirikan diberbagai tempat sampai kepelosok-losok desa.

ULAMA YANG DIGELARI WALIYULLAH
Waliyullah dan Karomah
Hampir semua narasumber dan informan yang secara langsung kenal dengan beliau dan pernah berjumpa, berkata bahwa Tuan Guru Lopan atau TGH.Lalu Muhammad Sholeh adalah seorang ulama’ yang Walliyullah dan memiliki Karomah. Ketika ditanyakan mengapa dianggap sebagaiseorang Waliyullah (Wali), Umumnya narasumber dan informan mengemukakan alasan argumentasi yang pada intinya tidak berbeda dengan pemahaman kita tentang Waliyullah dan Karomah secara umum. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengungkapkan bahwa para Nabi dan Waliyullah (Wali) manusia biasa sebagaimana kita sekarang, akan tetapi Qalbu-Nyalah yang luar biasa bersih dan sucinya sehingga diumpamakanya sebagai sebuah cermin yang  bening Bersih dari sifat-sifat tercela. Qolbu yang mulia itu begitu transparan dalam menerima pancaran Nur Ilahi; begitu mudahnya menerima apa yang tertera di Lauhil Mahfudz, Waliyullah adalah manusia yang tingkatan qolbunya telah mendekati tingkatan kebesaran dan ketinggian qolbu para Nabi.

Kembali ke TGH.L.Muhammad Sholeh (Tuan Guru Lopan), beliau merupakan figur Publik Masyarakat Pulau Lombok yang digelari seorang Waliyullah. Cerita-cerita tentang keharuman nama beliu dengan berbagai karomahnya, Walau telah meninggal dunia dalam tahun 1942 (Awal Masuknya Penjajahan Jepang), namun cerita-cerita tersebut hingga kini tetap merupakan cerita yang masih berkembang seakan tak pernah usang. Segelincir tentang Karomah beliau yang banyak masyarakat pada umunya ketahui, Yaitu:
  1. Berada di Banyak Tempat Dalam Waktu Yang Bersamaan 
  2. Makan Seadanya 
  3. Menggunakan Sarung Bertambal 
  4. Keajaiban Bukan Sulap (Dedauan menjadi Uang) 
  5. Menyeberangi Laut “Ke Gili Air” Bersampan Kain 
  6. Membuat Pecut Jaran 
  7. Boleh Kencing sambil Berdiri ‘(Tanda Kutip) ya 
  8. Belalang Sudah Masak (Mateng) Berterbangan semua 
  9. Mennyuruh Orang Mensucikan Badan 
  10. Makan Besar di Dalam Hutan Belantara 
  11. Membangun Mbung (Bendungan) 

 
MENJELANG AKHIR HAYATNYA
Unik Tapi Nyata

Berbincang lebih jauh dengan Mamiq Komalah alias H.L Muh.jamir dan Mamiq Rohani alias H.L Najwa: Dua cucu beliu yang sudah sepuh seputar peri kehidupan beliau beserta pelajran-pelajaran yang banyak ditinggalkan Almarhum Datok Lopan, sepertinya tak pernah membosankan. Sederhana tetapi mudah dicerna diakal. Beliau (TGH. Lopan) memang ulama’ yang tak kenal lelah, pantang menyerah, tak ada putus asa dalam kamusnya. Perbincangan dengan mamiq Komalah (H.L.Muh. Jamir) dan Mamiq Rohani (H.L.Najwa) ketika wawancara ini berlangsung di ketaq, ditutup dengan kisah-kisah unik tapi nyata yang beliau jumpai menjelang akhir-akhir hayat Almarhum TGH.Lopan.
(H.L.Muh.Jamir dan H.L.Najwa, Wawancara : 25-11-2000).
Berikut ini cerita singkat Menjelang Akhir Hayat TGH.L.Muhammad Sholeh:
“Pagi, pada hari beliau akan meninggal dunia, Salah seorang murid sekaligus kusir dokar pribadi beliau yakni Mamiq Jelenga  (yang bertempat tinggal di Semparu) dipanggilnya. Dokar memang ditempatkannya di Semparu-Lopan karena kondisi jalan yang masih belum bagus untuk dilalui Dokar  pada saat itu. Beliau menugaskannya mendatangi TGH.Badarul Islam (Saudara seperguruan beliau di Mekkah-putra TGH.Umar) untuk bertanya arti kata “Inna Lillahi Wainna Ilaihi Roji’un”............bersambung.


Sumber:           H. LALU MUHAMMAD AZHAR & H. LALU MUHAMMAD SHOLEH TSALIS
                        YAYASAN PONDOK PESANTREN AS-SHOLEHIYAH
                        LOPAN-KOPANG-LOMBOK TENGAH TAHUN 2003
              
TUAN GURU HAJI UMAR  KELAYU LOMBOK




Diceritakan oleh TGH Bahaudin tentang karomah Datuk Umar, suatu kali pada bulan Maulid Tuan Guru Umar Kelayu menghadiri acara di 40 desa dalam waktu yang bersamaan. Syekh Bawean (Madura) juga pernah menceritakan, ketika makam beliau di Mu’ala Makkah di bongkar setelah 60 tahun wafatnya TGH Umar Kelayu, jenazahnya masih utuh. Itulah tanda-tanda kemuliaan/karomah yang diberikan oleh Alloh SWT kepada beliau.
Tuan Guru Haji Umar dilahirkan di Desa Kelayu Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur NTB sekitar tahun 1208 H. (1789 M) dari pasangan Kyai Retane alias Syekh Abdullah dan Hajjah Siti Aminah. Dalam konteks sosial-keagamaan leluhurnya terkenal ‘alim dan taat menjalankan syari’at agama Islam. Mereka tergolong bergaris keturunan darah biru kerajaan Selaparang, yang berasal dari keturunan Penghulu Agung kerajaan Selaparang yaitu Kyai Nurul Huda, ia mempunyai seorang putra yang bernama Kyai Ratane, Kyai Ratane mempunyai tujuh orang anak, salah satunya adalah  TGH, Umar Kelayu. Kyai Nurul Huda dikenal juga dengan Datuk Uda, adalah kakek dari TGH Umar Kelayu yang merupakan putra dari Penghulu Agung Kerajaan Selaparang.  Sedang ayah dari TGH Umar adalah Kyai Ratane Yang kemudian juga diangkat sebagai Qadi di Selaparang.
Menurut riwayat, sewaktu TGH Umar masih dalam kandungan, pada tanggal 27 Ramadhan 1207 H. ketika ibundanya mengambil air wudlu’ untuk persiapan sholat Subuh menjelang fajar tiba, ia melihat cahaya yang amat menakjubkan di sekitar lumbung di halaman rumahnya. Setalah selesai berwudlu’ ia naik ke gelamparan lumbung dan melihat seluruh benda-benda di sekelilingnya bersama-sama merunduk, seolah-olah sedang bersujud menyembah Allah SWT.” Masya Allah! Apa yang terjadi?”  pikirnya, Sejenak beliau tertegun dan mengingat cerita-cerita leluhurnya yang sering didengarnya semenjak kecil, bahwa salah satu pertanda malam Lailatul Qadr adalah adanya pandangan menakjubkan yang hanya dilihat oleh orang yang dikehendaki Allah SWT. Seketika itu pula ia teringat pada anak yang dikandungnya yang baru berusia beberapa bulan, dan seraya ia berdo’a:  Ya Allah, ku mohon kepada-Mu, berikanlah karunia-Mu berupa iman yang kuat kepada anak yang kukandung ini agar ia istiqomah dalam kabajikan untuk mengabdi kepada-Mu ”. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki dan diberi nama Umar. Ibunda yang melahirkan beliau wafat di Kota Makkah pada malam Jum’at tanggal 7 Dzulqaidah 1317 H. TGH Umar bersaudara kandung sebanyak tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan.
Selama hayatnya, TGH Umar pernah menikah tujuh kali. Pertama, menyunting gadis Kamasan Lombok Barat bernama Asiah, yang setelah menunaikan ibadah Haji bernama Hajjah Asiah. Hj Asiah melahirkan beberapa anak, yang pertama laki-laki bernama Muhammmad Rais, sehingga di Kelayu dan di Makkah beliau lebih akrab di panggil Ma’ Rais. Anak-anak yang dilahirkan sangat jarang yang berumur panjang, karena rata-rata meninggal sewaktu belum balig, kecuali yang bungsu bernama Akar. Setelah dewasa dan menunaikan ibadah Haji, Akar bernama TGH. Badarul Islam (sebutannya: Tuan Guru Badar ) TGH Badar kemudian menikahi putri dari Jero Mihram alias Haji Muhammad Kasim yang bernama Hj. Aminah sekitar tahun 1904. Sejak pernikahan tersebut TGH Badar tinggal berumah di Pancor.
TGH Umar menikah di Kota Makkah dengan Hj. Raden Roro ( Rr) Amnah binti Syekh Raden Tayyib berasal dari Banyuwangi Jawa Timur.  Hj.  Rr. Amnah adalah cucu dari Temenggung Banyuwangi yang bernama Temenggung Raden Pringgokusumo. Beliau dikarunia dua orang anak laki-laki dilahirkan di Kota Makkah pada hari Ahad tanggal 25 Robiul Akhir 1320 H. bernama Haji Ahmad Badarudin yang kemudian dimasa tuanya lebih di kenal dengan Haji Ahmad Tret-tet-tet. Di Pulau Lombok Haji Ahmad Tret-tet-tet sangat terkenal dan disegani karena karomahnnya. Salah satu karomahnya yang disaksikan orang banyak yaitu ketika mengantar kepergian TGH Umar ke Labuhan Haji pada pemberangkatan hajinya. Ketika terakhir kali keberangkatannya  ke Tanah Suci Makkah  (Januari 1930), kapal Haji yang mengangkut ayahandanya tidak dapat angkat jangkar pada waktu yang telah dijadwalkan. Konon, itu disebabkan haji Ahmad ingin ikut tetapi tidak diberikan. Pada saat itu beliau menghilang selama dua hari dua malam. Akhirnya kapal haji dapat diberangkatkan setelah beliau mengikhlaskan kepergian ayahandanya. Haji Ahmad telah wafat di Pulau Lombok pada tahun 1988 dan dimakamkan di Karang Kelok Mataram.
Istri-istri TGH Umar selain dari dua orang yang tersebut di atas ada juga dapat melahirkan anak dan ada juga yang tidak dapat melahirkan anak. Istri-istri beliau yang dapat melahirkan anak masing-masing : (1) Hajjah Aisyah dari Kelayu dinikahi pada bulan Jumadil Awwal 1324 H. beliau dikarunia dua orang anak, yaitu yang laki-laki bernama Haji Abdullah yang dilahirkan di Kota Makkah pada tanggal 19 Syawal 1347 H. dan yang perempuan bernama Hajjah Hurul’ain,  (2) Hajjah Aminah binti KH. Khalil Bangkalan Madura dan dikaruniai seorang anak bernama Hajjah Hafsah. (3) Hajjah Surati dikaruniai dua orang anak masing-masing Hajjah Subuhiyah dan Hajjah Husniyah. Istri-istri beliau ada sebagian telah wafat semasa hayat TGH Umar,  ada yang sudah dicerai sebelum wafatnya TGH Umar.

Pendidikan Dan Gurunya
Silsilah Guru-Murid

TGH Umar Kelayu

TGH Umar Kelayu mula-mula belajar membaca Al-Qur’an pada Ayahandanya Kyai Ratane, kemudian pada Haji Muhammad Yasin yang juga berasal dari Desa Kelayu. Kemudian berguru pada Tuan Guru Haji Mustafa di Sekarbela yang ketika itu disebut-sebut masyarakat ahli Nahwu dan kepada Tuan Guru Haji Muhammad Amin di Sesele untuk belajar Tafsir, Qawaid, dan Ilmu Nahwu,
Ia menunaikan Ibadah haji pertama kalinya ketika berumur 14 tahun, selama di Makkah ia mengikuti pengajian halaqah di Masjidil Haram, dan tinggal di sini selama 15 tahun, di antara gurunya adalah Syekh Musthofa Bin Muhammad Al-Afifi, salah seorang ulama ahli hadis. Syekh Mustafa Al-Afifi adalah guru dari para ulama Nusantara abad 19 M, beberapa di antaranya adalah : Hasan Mustafa Garut (1268H./1852M–1348H./1930M) ulama yang produktif menulis dalam bahasa Sunda, KH. Ahmad Khalil Bangkalan (1235H/1820M–1341H/1923M) dikenal sebagai guru para ulama Madura.

 TGH Umar juga berguru pada Syekh Zainuddin Sumbawa dan Syekh Abdulah Karim Daghestan.  Syekh Abdul Karim al-Deghestan juga merupakan guru ulama  Indonesia, beberapa ulama terkenal di Indonesia pernah berguru padanya,  seperti Kyai Mugni al-Batani dari Banten.
Sekembalinya dari menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah, pada usia kurang lebih 29 tahun, beliau mulai membuka pengajian halaqah ala Masjidil Haram di teras rumahnya Bawa ’Sabo Gubug Tenga’ Kalayu. Dalam kurun waktu yang tidak lama, nama TGH Umar sudah tersebar luas di pulau Lombok sehingga murid-murid berdatangan dari berbagai desa baik di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah maupun Lombok Barat untuk menuntut ilmu agama di Desa Kelayu.
  Setelah beberapa tahun memberikan pengajian pada masyarakat Lombok, TGH Umar berangkat ke Makkah untuk kedua kalinya. Di Tanah suci Makkah beliau juga mengajar pada pengajian halaqah ma’had di Masjidil Haram. Pada waktu itu banyak warga asal Melayu yang tinggal di Kota Makkah dan sebagian besar di antara mereka belum memahami bahasa Arab secara aktif. Sementara itu pengajian halaqah di Masjidil Haram menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab yang diajarkan dengan pengantar bahasa Arab. Hal ini mengakibatkan mukimin-mukimin yang berasal dari Melayu (Nusantara) tidak dapat mengikuti pengajian yang mereka harapkan dan niatkan dari tanah air. Atas dasar itu, TGH Umar juga membuka pengajian halaqah menggunakan pengantar bahasa Melayu. Menurut riwayat, ia lebih banyak  memberikan pengajian di Makkah daripada di Lombok, bahkan di Kota Makkah beliau membuka toko Kitab. Karena ketinggian ilmunya, TGH Umar diangkat sebagai Imam di Masjidil Haram sampai Akhir hayatnya.
Beliau adalah seorang ulama  Suni, dalam pengajiannya beliau memfokuskan pada pelajaran Fiqih Mazhab Imam Syafi’i. Salah satu kitab Fiqih yang beliau ajarkan waktu itu adalah “Fathul Qorib”. TGH Umar juga mengarang Syair dan Nadzom-sejenis kitab Barzanji yang berisi pujian-pujian kepada Nabi Tabi’it Tabi’in, serta Kitab Burdah, berupa kumpulan do’a-do’a sholawat, sayangnya  sampai saat ini belum di temukan kitab-kitab karangannya tersebut.
Selain Kitab Burdah, hingga akhir hayatnya baru ditemukan dua buah Kitab yang dikarang, yaitu Kitab Usuludin Man©arul Amra« yang ditulis pada tahun 1295H, kitab ini menjelaskan tentang konsep-konsep ketuhanan, dalam aliran Asy’ariyah, di dalamnya terdapat penjelasan tentang sifat-sifat 20. Kalau diperhatikan secara seksama kitab ini banyak mengutip dari tulisan Syekh Zainuddin Sumbawa dari kitab Sirajul Huda yang merupakan syarah dari Ummu al-Barahin karya Imam Sanusi. Dan Lu’lu’il Masyhur yang ditulis pada tahun 1342 H, kitab ini menjelaskan tentang sejarah Rasulullah SAW dan ditulis ulang oleh Muh. Jamal bin Muhammad Amir tahun 1348 H. Kedua kitab ini sudah dicetak di percetakan Mulia Surabaya pada tahun 1369H/ 1949 M.

Murid-muridnya
TGH Umar mempunyai murid yang cukup banyak dari berbagai negeri dan daerah seperti : Palembang, Johor, Kedah, Jawa, Bali, Perak, Lampung dan Lombok. Murid-muridnya yang terkenal dan menjadi ulama’ besar di luar Lombok antara lain: Syekh Muhammad Zen Bawean (Makkatul Mukarramah),Tuan Guru Haji Abdul Patah Pontianak (kalimantan), Tuanku Haji Daud Palembang (Sumatra), Buya Haji Nawawi Lampung (Sumatra), Gurutta H. Abdurahim Kedah, KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdatul Ulama). Sedangkan yang dari Lombok sebagai penerus perjuanganya antara lain; TGH. Rais Sekarbela, TGH. Saleh Hambali Bengkel, TGH. Abdul Hamid Pejeruk Mataram, TGH. As’ari Sekarbela, TGH. Abdul Karim Praya, TGH. Mali Pagutan, TGH. Muhammad Saleh alias Tuan Guru Lopan, TGH. Syarafuddin Pancor, TGH. Badarul Islam Pancor (putra beliau), TGH. Muhammad Ali Kelayu  (Keponakan), TGH. Abdullah Kelayu, TGH. Zainuddin Tanjung, TGH. Mohammad Thohir Mamben, TGH. Nuh.
Dari murid-murid TGH Umar Kelayu tersebut banyak yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting di organisasi kemasyarakaatn Islam seperti NU dan NW di Lombok, juga banyak yang kemudian menjadi guru tarekat.
Para Tuan Guru ini kemudian selain membentuk jaringan yang lebih luas, mereka juga memiliki peran yang cukup penting dalam penguatan ajaran Islam pada abad ke 19 dan awal abad 20 di Lombok. Di antara mereka ada yang mendirikan pondok pesantren, dan melakukan rihlah dakwah. Selain keterlibatan mereka dalam transmisi ke-Ilmuan, para Tuan Guru juga terlibat dalam Perang Lombok melawan penguasaan Bali-Sasak. Pada tahun 1891 -1894 M, dimana masyarakat Islam bersatu di bawah komando para Tuan Guru melawan penguasaan Bali-Sasak. Kalaupun pada akhirnya Belanda turut campur dalam mengusir penguasaan asal Bali di Lombok. Setelah penguasaan Bali dapat dilumpuhkan di Lombok, Belanda yang tadinya sekutu orang-orang muslim, berbalik menjadi penjajah baru di Lombok. Sejak itulah awal mulainya koloni Belanda berkuasa di Lombok. Para Tuan Guru bersama murid-muridnya melakukan perlawanan terhadap Belanda sampai Penjajah meninggalkan Gumi Sasak   (Tanah Lombok).
Adapun sahabat karib TGH Umar yang terkenal seperti: Syekh Sayyid Yamani, Syekh Umar Bajunet Hadrami, Syekh Abdul Kadir Mandailing, Syekh Muhtar Bogor, Syekh Jamal Maliki (Mufti Mazhab Maliki), KH. Muhammad Khalil Bangkalan Madura, TGH. Muhammad Sidik Karang Kelok, TGH. Ibrahim Tanjung Luar, dan TGH. Muhammad Mertak.
Setelah cukup lama mengajar mengaji dan mengadakan Pembaharuan di tengah-tengah masyarakat baik di Lombok maupun Makkah, kondisi kesehatan TGH. Umar mulai menurun sejak tahun 1928 M. Sejak saat itu beliau istirahat memberikan pengajian di luar rumah bahkan ke masjid pun hanya pada hari Jum’at. Pada saat itu, kondisiya sudah cukup uzur. Malahan ketika pergi dan pulang dari masjid beliau diusung menggunakan juli (yaitu kursi rotan yang dipasangkan dua buah kayu panjang pada sisi kanan dan kirinya , dan diikat menggunakan tali ) serta diangkat oleh para jama’ahnya. Ini adalah salah satu bukti kecintaan Tuan Guru Umar terhadap umatnya, sekaligus bukti rasa tanggung jawabnya dalam membina umat Islam.
Kiprah Tuan Guru Di Masyarakat
Tuan guru memiliki pengaruh yang besar dan menduduki posisi yang sangat strategis dalam masyarakat sasak. Karisma dan status Tuan Guru semakin meningkat seiring dengan bertambah luasnya wilayah dakwah dan semakin banyaknya pengikut Tuan Guru. Masyarakat sasak memiliki pandangan sendiri tentang Tuan Guru, besarnya pengaruh tuan Guru tidak dapat di lepaskan dari sikap dan pemahaman masyarakat sasak tentang Tuan Guru.
Tuan Guru adalah sebutan dari seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi yang diberikan oleh masyarakat sebagai wujud dari pengakuan mereka terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki seseorang. Pada umumnya mereka yang diberikan gelar tuan guru adalah seseorang yang pernah belajar di Timur Tengah (belajar pada ulama’-ulama’ terkenal) atau minimal pernah berhaji, memeiliki jama’ah pengajian  (pengajar majlis ta’lim di beberapa tempat), atau pondok pesantren dan memiliki latar belakang hubungan dengan seseorang yang berpengaruh, atau boleh jadi karena orang tuanya adalah tuan Guru.
Pada abad ke 18 sampai awal abad ke 20, mereka yang menjadi Tuan Guru adalah yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut antara lain : Pertama, memiliki pengetahuan memeadai tentang ilmu-ilmu ke-Islaman dan berbagai ajaran-ajarannya. Kedua, pernah belajar kepada ulama’-ulama’ terkenal di Timur Tengah (khususnya Haramain). Ketiga, memperoleh pengakuan dari masyarakat. Pengakuan masyarakat menjadi sangat urgen bagi eksistensi ke-Tuan Guru-an seseorang. Keempat, memiliki karomah.  Seseorang dikatakan memiliki karomah apabila ia dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Allah SWT. Setelah abad ke 20 persyaratan-persayaratan ini semakin melunak untuk menjadi tuan Guru. Tidak diharuskan pernah belajar di Timur Tengah, akan tetapi dia tetap haji dan tidak mesti memiliki karomah, asalkan memiliki pondok pesantren atau karena orang tuanya Tuan Guru.

Dalam kurun waktu dari abad ke 18 sekarang, seiring dengan menguatnya pengaruh dan popularitas tuan Guru bahwa dalam masyarakat sasak telah terjadi perubahan struktur social. Sebelumnya dalam masyarakat sasak terdapat empat golongan struktur sosial, secara berurutan adalah  (1) Golongan Raja dan Keluarga raja, termasuk di dalamnya keturunan-keturunanya. (2) Golongan Ningrat atau raden, mereka ini bangsawan sasak yang bergela lalu atau Raden. (3) Golongan pruangse,  orang kebanyakan. (4) adalah golongan jajar karang (termasuk juga budak . Sekarang yang menggantikan struktur sosial tersebut adalah (1) Tuan Guru, tokoh agama (Ulama) (2) Tuan Haji, mereka orang kebanyakan yang terdiri dari, mereka yang mampu secara finansial (Orang kaya,Pemilik modal, para bangsawan, pegawai negeri atau yang sederajat dengannya),dan (3) Non-Haji, mereka yang secara finansial berada di bawah garis kemiskinan, yang tidak mampu, pekerja, buruh kasar, dan yang sederajat dengannya.
Tuan guru menjadi figur yang utama dan memiliki pengaruh yang kuat pada masyarakat sasak Lombok salah satunya TGH Umar Kelayu. Beliau sosok yang sangat sederhana, karena bisa memberikan keteladanan pada Umat, ucapan dan tindakannya seirama sehingga menjadi sosok yang paling disegani, dituruti dan di taati dalam kultur masyarakat sasak. Ulama’ besar ini (Datuk Umar) punya prinsip “Hidup untuk Berjuang bukan Berjuang untuk Cari Hidup. Bahkan jejak beliau sangat terasa dan membekas pada diri keluarga, jamaah dan ummat sampai saat ini. Kita bisa saksikan bagaimana masyarakat Kelayu yang punya garis keturunan langsung dengan beliau, hidup dalam pengaruh nilai-nilai Islam. Beliau tidak mewariskan harta, jabatan, pangkat, tetapi wewariskan keluhuran budi, keikhlasan dalam setiap Aspek ibadah dan ketaatan. Perjalanan dakwahnya sangat terasa sampai luar negeri (Timur Tengah), Nusantara, dan kampung halamannya (Sasak- Lombok). Dengan melahirkan dan membesarkan Tuan Guru yang ada di Lombok.
Pada tahun 1929 M. TGH. Umar meminta isteri dan anak-anaknya untuk berangkat menunaikan ibadah Haji ke Baitullah di Makkatul Mukarramah. Namun isteri dan anak-anaknya tidak mau berangkat tanpa keikutsertaan TGH Umar. Setelah melalui berbagai pertimbangan, TGH. Umar pun bersedia turut serta walaupun dengan sangat berat hati meninggalkan jama’ah dan masjid yang dibangun belum selesai 100%. Dengan firasat ke ulama’an dan karomahnya, beliau sengaja mengundang jama’ahnya datang ke masjid pada sore hari Jum’at di bulan Rajab tahun 1348 H. (Desember 1929 M) untuk menyampaikan kata-kata perpisahan kepada jama’ah yang dicintainya.
Jama’ah pun berdatangan dari luar desa Kelayu sehingga memenuhi halaman masjid sampai ke pekarangan kantor desa dan pasar Bawa’ Bage serta melimpah sampai ke jalan menuju pasar besar Tago’. Sebelum menyampaikan kalam-kalam terakhirnya, para jama’ah telah melihat dengan jelas deraian air mata telah membasahi pipinya, namun para jama’ah belum mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh sang Guru. Ketika saatnya tiba, beliau berpidato sambil menangis yang mengakibatkan kata-kata agak sulit keluar dari bibirnya.
Dalam tausiyah yang beliau sampaikan dapat dipetik beberapa benang merah, yaitu: (1) Menyampaikan permohonan ma’af atas segala kekeliruan selama hayatnya, (2) Jika wafat di Lombok, agar dimakamkan di dekat mimbar masjid Al-Umary kelayu, (3) Menyerahkan kepengurusan Masjid kepada penghulu desa Haji Muhammad Ali, (4) mempersaudarakan seluruh murid-muridnya dengan mengikat janji agar semua saling memberi syafa’at kelak di hari kemudian (Yaumul ba’ts padang mahsyar), dan (5) Mengumumkan kepergiannya ke tanah Suci Makkah serta mohon diri dari para jama’ahnya karena kemungkinan tidak kembali lagi ke pulau Lombok. Setelah mendengar kata-kata terakhir itu, deraian air mata dari seluruh jama’ah tak dapat dibendung.  Satu tahun setelah kedatangannya di Mekkah, TGH Umar Wafat dalam usia 145 tahun tepatnya tanggal 2 Rabiul Akhir 1349H./1930M. di kediamannya kampung misfalah, Makkah, beliau dimakamkan di Ma’la berdekatan dengan makamnya Ibnu Hajar al-Haithami.

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 1998, cet. Ke-4.
Budiwanti, Erni, Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima, Yogyakarta: LkiS, 2000.
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES, 1982.
Fadli, Adi, Sejarah Pendidikan Islam di Tanah Sasak, makalah seminar tentang Sejarah Pendidikan Islam di Lombok, di Ponpes al-Asma’ al-Husna Tanak Beak Pemangket Lombok Tengah, September 2006.
Fadly, Ahyar, Islam Lokal: Akulturasi Islam di Bumi Sasak, Bagu: STAIIQ Press, 2008.
Fatmawati, Siti, “Tarekat dan Pembinaan Akhlak: Studi Kasus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pesantren Darul Falah Pagutan Lombok”, dalam Jurnal Ulumuna, Mataram: STAIN Mataram, 2002.
Jamaluddin, Sejarah Sosial Islam di Lombok tahun 1740-1935 (Studi Kasus terhadap Tuan Guru),Jakarta; Kementerian Agama Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, 2011.
Salam, Solichin, Lombok Pulau Perawan: Sejarah dan Masa Depannya, Jakarta: Kuning Emas, 1992.
Zailani, Kamaruddin, Teologi Waktu Telu, Yogyakarta: UIN Suka, 2002, tesis.
Zakaria, Fathurrahman, Mozaik Budaya Orang Mataram, Mataram: Sumurmas al-Hamidi, 1998.






No comments:

Post a Comment

 
 
Blogger Templates