Social Icons

.

Wednesday, September 3, 2014

MAKAM WALI KETAQ



Banyaknya peziarah yang datang berziarah ke Makam Ketaq-tempat dimakamkanya Almarhum Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Sholeh atau Tuan Guru Lopan yang mengajukan permintaan untuk diberikan semacam kenang-kenangan atas perziarahannya ke makam beliau menyebabkan pihak keluarga almarhum berpikiran bahwa yang paling tepat untuk kenang-kenangan tersebut adalah tulisan yang berisikan kiprah kehidupan beliu sebagai seorang Ulama’sekaligus seorang tokoh sosial kemasyarakat di Pulau Lombok dengan berbagai aktivitas. Lebih-lebih para peziarah yang datang dari luar daerah seperti dari Banjarmasin, Banyuwangi, Banten, Jakarta dan daerah lainnya.

Di harapkan tulisan ini juga berfungsi sebagai upaya mengenang dan melestarikan jasa-jasa beliau hingga dapat dijadikan suri tauladan akan ketulusan, keikhlasan, dan ketidakpamrihan beliau dalam berdakwah menyuburkan pelaksanakan syariat Islam dikalangan para penganutnya. Perlu kita ketahui bahwa kiprah beliau bukan semata di bidang agama ( Islam ) tapi yang tak kalah pentingnya berbarengan dengan itu adalah upaya dibidang kesejahteraan sosial masyarakat Sasak dengan membangun mbung-mbung  (dam/bendungan) yang berskala kecil maupun cukup besar (Ukuran swadaya masyarakt kewtika itu) disamping juga merintis Pembuatan Jalan dan Jembatan, melakukan Penghijauan  diberbagai kebun-kebun milik rakyat maupun kawasan hutan di Pulau Lombok.

 
TUAN  GURU HAJI LALU MUHAMMAD SHOLEH (TGH LOPAN)




































Ayahandanya Hijrah Karena Muatan Politik
 
Ayahandanya bernama Lalu Adis alias Mamiq Gurnita, Ibundanya bernama Baiq Pon, putri dari Raden Purwana – Kampung Banjar Praya (Banjar Getas?). Lalu Adis sendiri lahir di Kampung Balung-Adang (Jl. Basuki Rahmat-Praya sekarang). Dalam usia muda Lalu Adis Hijrah ke Lopan karena terkait dengan situasi dan kondisi politik. Keamanan wilayah sering terganggu di Perbatasan Praya-Kopang-Mantang karena politik yang dijalankan kerajaan Karang Asem Singasari  yang menguasai bagian barat Pulau Lombok untuk memperluas wilayah kekuasaannnya. Ditempat tersebut (yang akhirnya dikenal dengan nama Lopan) Lalu Adis bersama sejumlah pasukannya yang mengawal perbatasan, akhirnya menetap. Kampung itulah yang hingga kini kita kenal dengan sebutan LOPAN.
Belum tertelusuri terlampau jauh keatas silsilah keturunan beliau mengingat terbatasnya sumber yang ada. Hanya saja seperti yang disampaikan oleh Lalu Ratmawa ( H.Lalu Abdul Azim-Praya ), Mamiq Kamalah dan H.Lalu Najwa – Lopan yang telah diriwayatkan oelh pendahulu-pendahulunya, bahwa Datu Panang merupak keturunan dari Datu Bayan merupakan yang memilih menetap di Praya (Gawah Brora). Konon beliu bersaudara 3 (Tiga) orang laki-laki. Seorang tinggal di Bayan (yang terbesar), lalu yang kedua yakni Datu Panang – di Praya dan yang paling bungsu akhirnya menetap di Mambalan – Gunungsari (Wawancara, 25-11-2000).
Sebuah cerita konyol terjadilah; Setelah beberapa lama beliau meninggal karena sakit, ( pasca Perang Praya I) satu pasukan dari salah satu wilayah desa Muncan – Kopang pro Karang Asem Singasari Cakranegara ketika meliwati Makam Ketaq, Melepaskan kemarahannya pada satu nisan makam Lalu Adis yang dipenggalnya dengan Pedang. Konon mereka melampiaskan kekesalan karena telah berbagai upaya mereka lakukan untuk mengalahkan Lalu Adis (Ayahanda Tuan Guru Lopan) dalam berbagai pertempuran namun beliu adalah lawan yang tetap tangguh. Sembari menghantam batu nisan tersebut mereka berkata: “Inilah  kuburan orang Praya yang senantiasa mengobrak-abrik pasukan kopang!”, katanya. Sampai sekarang ini, batu nisan yang terbuat dari batu Granit itu terpotong kepalanya.
Makam Lalu Adis di Montong Ketaq merupakan sejarah awal penggunaan bukit tersebut sebagai areal pemakaman tempat dimakamkannya Tuan Guru Lopan sekarang, Makam beliau berdampingan dengan makam Ayahnya (Lalu Adis ). Montong Ketak termasuk areal tanah pusaka milik sendiri. Adapun silsilah keturunan beliau yang diambil dari tiga Generasi Diatasnya dapat dilihat pada Gambar Berikut:
                                                                                                                     







Tampak Luar Pintu Masuk Makam
Tidak banyak yang mengetahui nama aslinya Lalu Durma *) atau Mamiq Mahmud sebab beliau setelah dikenal masyarkat luas sebagai seorang Ulama' yang Wara' (Ciri-ciri Waliyullah), sebutan TGH.Lalu Muhammad Sholeh pun jarang terdengar atau disebut oleh Sebagian besar Masyarakat Umum. Beliau lebih populer dengan sebutan Tuan Guru Lopan. Durma, adalah nama salahsatu jenis Tembang yang oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok cukup dikenal sebagai sebuah Tembang yang mengandung nilai perjuangan. Apakah karena ayahanda beliau pengagum Tembang Durma hingga beliau diberinama "DURMA"?, Tak ada yang tahu pasti. Durma dalam bahasa Sasak (Karena pengaruh dialek dan ideolek) juga bisa berarti derma/amal (Bedurma = beramal).
Untuk mencapai Makam Ketaq, kita dapat menempuh beberapa jalur menggunakan Jalur Jalan Raya. Bagiyang datang dari kota Praya atau Mantang (Batukliang) menempuh jalur jalan Praya-Mantang, Begitu sampai de desa Bodak, belok ke kanan mancapai desa Muncan lalu dari pertigaan Muncan belok ke kanan kira-kira 1,5 - 2 Km akhirnya tibalah kita di Makam Ketaq.

 
Tangga Awal Masuk Makam Ketak
 
Tangga ke dua Lokasi Makam




















































Tampak Bangunan Makam Dari Luar

Di balik pintu itulah tempat peristirhatan TGH Lopan beserta Orang Tua dan kedua Istrinya sedangkan diluar adalah Makam Sanak Saudara Beliau.

Tampak Para Peziarah melakukan Do'a dan Dzikir
Lokasi Parkir Kendaraan Makam Ketak

DAKWAH dan SASARAN UTAMANNYA


Sebagai besar dari Pulau Lombok yang mengetahui kiprah TGH. Lopan mengemukakan bahwa sasaran utama dakwah Islam TGH. Lopan adalah para penganut ajaran islam yang masih belum sempurna yang di Pulau Lombok lebih dikenal dengan sebutan “Islam Waktu Telu”.

Pada saat itu, masyarakat Sasak (Yang menganut faham Islam Waktu Telu) pada umumnya membedakan dua faham Islam. Islam waktu lima karena menunaikan shalat Lima Waktu. Sementara Islam Waktu telu (jika hanya shalat yang menjadi barometernya) berarti mereka shalat hanya Tiga Waktu. Padahal kenyataannya tidak demikian, yang menunaikan shalat dalam kepercayaan Waktu Telu hanya kyai (pemimpin/pemuka agama) nya saja. Ini pun terbatas pada waktu-waktu tertentu, yang bukan kyai TIDAK melaksanakan SHALAT apapun. Dalam pemahaman yang sangat terbatas, mereka mengakui AL-Qur’an dah Hadist. Selebihnya, ilmu agama yang didapat dari tulisan-tulisan yang ada dalam Lontar yang umumnya berisi Fikh, Usulfikh dan Tasawuf yang bertuliskan aksara (yang biasa disebut jejawan atau huruf ceraka). Bahayanya; karena pemahan mereka tentang ilmu Islam sangat terbatas harus belajar Usul Fikh dan Tasawuf dari tulisan-tulisan beraksara Jejawan (Ceraka) denga uraian yang pelik dan berbelit; mereka sulit memaknakanya. Lam kelamaan faham mereka semakin jauh dari ajaran islam yang sebenarnya. Lalu, urusan agama yang berhubungan dengan ibadah, diserahkan kepada kyai saja, Urusan agama sepenunhya tanggung jawab kyai sedangkan urusan yang berhubungan dengan Upacara-upacara Adat dan Ritual lainnya (yang lebih dekat kepada Budha dan Animisme) merupakan tanggung jawab Mangku, (Pemangku Adat). Mereka punya tempat-tempat pemujaan / Upacara Ritual Adat yang dibaurkan agama yang disebut “Kemaliq”.


Teknik Berdakwah


Teknik dakwah yang dilakukan TGH Lopan sangat sederhana jika kita hubungkan dengan  berbagai Pola. “Teknik Jemput Bola” istilah yang populer sekarang, Adalah sebuah  teknik yang sangat langka yang sangat-sangat langka ketika tahun-tahun beliau berdakwah  (1266-1361 H) (1847-1942 M), dalam kurun waktu kurang lebih 95 Tahun dari 123 tahun usia beliau. Kebanyakan Ulama ketika itu di datangi murid-muridnya. Termasuk paman beliau sendiri yakni Lalu Ahmad Alias TGH.Muhtar yang mengajar/membuka pengajian dirumah beliau sendiri di Kampung Balung Adang-Praya. Kita sebut demikian karena dari kampung ke kampung, dari desa ke desa yang merupakan basis Islam Waktu Telu di Pulau Lombok ini pernah di datangi beliau. Sarana transportasi yang ada sangat minim yakni Kuda. Selebihnya berjalan kaki, Umumnya orang menjadi kenal beliau di tiap dusun dan desa yang didatangi, bermula dari berbagai kejadian atau peristiwa berbarengan dengan keberadaanya disana. Selain itu memulai cerita dari mulut ke mulut di kampung-kampung dan desa yang dde desa terdekat yang di huni orang yang mengenal beliau sebagai seorang ulama’ yang Waliyullah. Setiap orang yang menjumpainya entah dijalan atau didusun/kampung yang singgahinya, pada umumnya mereka berebut untuk bersalaman (Bersilaturrokhim), Sekalipun beliau berada diatas punggung kuda.


Sejumlah Masjid dan Langgar (Santren/Mushalla) Yang Diprakarsainya
Pada mulanya, tidak semua bangunan dimulai dengan bangunan yang berfungsi untuk masjid tetapi banyak pula untuk sekedar sebagai langgar (Santren/Mushalla). Namun dewasa ini karena pertumbuhan dan perkembangan manusia yang memerlukan sarana ibadah yakni masjid di Pulau Lombok khususnya (yang berpredikat sebagai Pulau Seribu Masjid), hampir semua langgar (Santren/Mushalla) yang beliau rintis telah ditingkatkan menjadi masjid oleh warga masyarakat setempat. Begitu banyak masjid yang beliau dirikan diberbagai tempat sampai kepelosok-losok desa.
ULAMA YANG DIGELARI WALIYULLAH
Waliyullah dan Karomah
Hampir semua narasumber dan informan yang secara langsung kenal dengan beliau dan pernah berjumpa, berkata bahwa Tuan Guru Lopan atau TGH.Lalu Muhammad Sholeh adalah seorang ulama’ yang Walliyullah dan memiliki Karomah. Ketika ditanyakan mengapa dianggap sebagaiseorang Waliyullah (Wali), Umumnya narasumber dan informan mengemukakan alasan argumentasi yang pada intinya tidak berbeda dengan pemahaman kita tentang Waliyullah dan Karomah secara umum. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengungkapkan bahwa para Nabi dan Waliyullah (Wali) manusia biasa sebagaimana kita sekarang, akan tetapi Qalbu-Nyalah yang luar biasa bersih dan sucinya sehingga diumpamakanya sebagai sebuah cermin yang  bening Bersih dari sifat-sifat tercela. Qolbu yang mulia itu begitu transparan dalam menerima pancaran Nur Ilahi; begitu mudahnya menerima apa yang tertera di Lauhil Mahfudz, Waliyullah adalah manusia yang tingkatan qolbunya telah mendekati tingkatan kebesaran dan ketinggian qolbu para Nabi.
Kembali ke TGH.L.Muhammad Sholeh (Tuan Guru Lopan), beliau merupakan figur Publik Masyarakat Pulau Lombok yang digelari seorang Waliyullah. Cerita-cerita tentang keharuman nama beliu dengan berbagai karomahnya, Walau telah meninggal dunia dalam tahun 1942 (Awal Masuknya Penjajahan Jepang), namun cerita-cerita tersebut hingga kini tetap merupakan cerita yang masih berkembang seakan tak pernah usang. Segelincir tentang Karomah beliau yang banyak masyarakat pada umunya ketahui, Yaitu:
  1. Berada di Banyak Tempat Dalam Waktu Yang Bersamaan 
  2. Makan Seadanya 
  3. Menggunakan Sarung Bertambal 
  4. Keajaiban Bukan Sulap (Dedauan menjadi Uang) 
  5. Menyeberangi Laut “Ke Gili Air” Bersampan Kain 
  6. Membuat Pecut Jaran 
  7. Boleh Kencing sambil Berdiri ‘(Tanda Kutip) ya 
  8. Belalang Sudah Masak (Mateng) Berterbangan semua 
  9. Mennyuruh Orang Mensucikan Badan 
  10. Makan Besar di Dalam Hutan Belantara 
  11. Membangun Mbung (Bendungan) 
 
MENJELANG AKHIR HAYATNYA
Unik Tapi Nyata
Berbincang lebih jauh dengan Mamiq Komalah alias H.L Muh.jamir dan Mamiq Rohani alias H.L Najwa: Dua cucu beliu yang sudah sepuh seputar peri kehidupan beliau beserta pelajran-pelajaran yang banyak ditinggalkan Almarhum Datok Lopan, sepertinya tak pernah membosankan. Sederhana tetapi mudah dicerna diakal. Beliau (TGH. Lopan) memang ulama’ yang tak kenal lelah, pantang menyerah, tak ada putus asa dalam kamusnya. Perbincangan dengan mamiq Komalah (H.L.Muh. Jamir) dan Mamiq Rohani (H.L.Najwa) ketika wawancara ini berlangsung di ketaq, ditutup dengan kisah-kisah unik tapi nyata yang beliau jumpai menjelang akhir-akhir hayat Almarhum TGH.Lopan.
(H.L.Muh.Jamir dan H.L.Najwa, Wawancara : 25-11-2000).
Berikut ini cerita singkat Menjelang Akhir Hayat TGH.L.Muhammad Sholeh:
“Pagi, pada hari beliau akan meninggal dunia, Salah seorang murid sekaligus kusir dokar pribadi beliau yakni Mamiq Jelenga  (yang bertempat tinggal di Semparu) dipanggilnya. Dokar memang ditempatkannya di Semparu-Lopan karena kondisi jalan yang masih belum bagus untuk dilalui Dokar  pada saat itu. Beliau menugaskannya mendatangi TGH.Badarul Islam (Saudara seperguruan beliau di Mekkah-putra TGH.Umar) untuk bertanya arti kata “Inna Lillahi Wainna Ilaihi Roji’un”............bersambung.

Sumber:           H. LALU MUHAMMAD AZHAR & H. LALU MUHAMMAD SHOLEH TSALIS
                        YAYASAN PONDOK PESANTREN AS-SHOLEHIYAH
                        LOPAN-KOPANG-LOMBOK TENGAH TAHUN 2003

1 comment:

  1. Alhamdulillah udah 3x aq ziarah k makam tg. Lopan... Insyaaallah suatu saat mdhn bs ziarah lg

    ReplyDelete

 
 
Blogger Templates