Social Icons

.
Showing posts with label Wisata Ziarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Ziarah. Show all posts

Wednesday, September 3, 2014

MAKAM RAJA SELAPARANG


PINTU MASUK MAKAM SELAPARANG
Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan dengan Seleparang), yang saat ini kurang lebih lebih berada di desa Selaparang, kecamatan Swela, Lombok Timur.
Sejujurnya minim sekali yang dapat diketahui tentang sejarah Kerajaan Selaparang, terutama sekali tentang awal mula berdirinya. Namun, tentu saja terdapat beberapa sumber objektif yang cukup dapat dipercaya. Salah satunya adalah kisah yang tercatat di dalam daun Lontar yang menyebutkan bahwa berdirinya Kerajaan Selaparang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah masuknya atau proses penyebaran agama Islam di Pulau Lombok.[1]
MAKAM SELAPARANG
Sejarah
Berdirinya Selaparang
Disebutkan di dalam daun Lontar tersebut bahwa agama Islam salah satunya pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang muballigh dari kota Bagdad, Iraq, bernama AsySyaikh As-Sayyid Nūrurrasyīd Ibnu Hajar al-Haytami. Masyarakat Pulau Lombok secara turun-temurun lebih mengenal beliau dengan sebutan 'Ghaus 'Abdurrazzāq'. Beliau inilah, selain sebagai penyebar agama Islam, dipercaya juga sebagai menurunkan Sulthan-Sulthan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Lombok.[2] Namun selain beliau, Betara Tunggul Nala (Nala Segara) diyakini pula sebagai leluhur Sulthan-Sulthan di Pulau Lombok.
Betara Nala memiliki seorang putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rambitan yang bernama asli Sayyid 'Abdrurrahman. Beliau ini dikenal pula dengan nama Wali Nyatok, seorang muballigh dan Wali Allah. Kata "Nyatoq" artinya Nyata. Ia disebut sebagai pendiri Kerajaan Kayangan yang merupakan cikal bakal Kerajaan Selaparang. Namun, karena ketinggian ilmu tarekatnya (thariqah), maka beliau memilih untuk mengundurkan diri dari panggung Kerajaan Kayangan dan kemudian menetap di desa Rambitan, Lombok Tengah, sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini.[3] Wali Nyatok ini di Pulau Bali terkenal dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Danghyang Dwijendra. Adapun di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru, sedangkan di Pulau Jawa beliau bernama Aji Duta Semu atau Pangeran Sangupati. Wali Nyatoq dikenal juga di Lombok dengan nama Datu Pangeran Djajing Sorga yang dipercaya datang dari Majapahit, Kabangan, Jawa Timur, untuk menyebarkan agama Islam. Ia mengarang kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tashawwuf dan Fiqh. Dalam proses menyebarkan agama Islam, salah satu media yang digunakannya adalah Wayang, sebagaimana yang dilakukan pula oleh Sunan Kalijaga. Adapun bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan kombinasi (sinkretisme) antara mistisme Islam (Sufisme) dengan salah satu ajaran filsafat Hindu, yaitu Advaita Vedanta.[4]
Kembali ke soal Kerajaan Selaparang dan Ghaus 'Abdurrazzāq. Tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya beliau masuk ke Pulau Lombok. Namun pendapat terkuat menyebutkan bahwa beliau datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya sekitar tahun 600-an Hijriyah atau abad ke-13 Masehi (antara tahun 1201 hingga 1300 Masehi). Ghaus 'Abdurrazzāq mendarat di Lombok Utara yang disebut dengan Bayan. Beliaupun menetap dan berda'wah di sana. Beliau kemudian menikah dan lahirlahi tiga orang anak, ya'ni Sayyid Umar, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pujut, Sayyid Amir, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pejanggik, dan Syarifah Qomariah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Dewi Anjani.[5]
Kemudian Ghaus 'Abdurrazzāq menikah lagi dengan seorang putri dari Kerajaan Sasak yang melahirkan dua orang anak, ya'ni seorang putra bernama Sayyid Zulqarnain (dikenal juga dengan sebutan Syaikh 'Abdurrahman) atau disebut pula dengan Ghaos 'Abdurrahman, dan seorang putri bernama Syarifah Lathifah yang dijuluki dengan Denda Rabi'ah. Sayyid Zulqarnain inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Selaparang sekaligus pula sebagai Datu (raja) pertama dengan gelar Datu Selaparang atau Sulthan Rinjani.[6]
Sampai disini sudah terdapat dua versi, yakni antara Nala Segara (Betara Tunggul Nala) dan Ghaus 'Abdurrazzāq yang sama-sama dipercaya sebagai penyebar agama Islam, menjadi cikal bakal Sulthan-Sulthan Lombok dan pendiri Kerajaan Selaparang. Pertanyaan yang agak menggelitik kemudian adalah:Tidakkah keduanya memang orang yang sama? Tidakkah yang dimaksud sebagai Nala Segara itu sebagai Ghaus 'Abdurrazzāq, dan Wali Nyatok adalah Ghaos 'Abdurrahman?. Hal itu masih dimungkinkan mengingat pada masa dahulu seorang tokoh seringkali menggunakan nama-nama berbeda ditempat yang berbeda.
Kejayaan Selaparang
Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di laut. Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah tersebut sekitar tahun 1667-1668 Masehi. Namun, Kerajaan Selaparang harus rnerelakan salah satu wilayahnya dikuasai Belanda, yakni Pulau Sumbawa, karena lebih dahulu direbut sebelum terjadinya peperangan laut. Di samping itu, laskar lautnya pernah pula mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel (Bali) dari arah barat. Selaparang pernah dua kali terlibat dalam pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel, yakni sekitar tahun 1616 dan 1624 Masehi, akan tetapi kedua-duanya dapat ditumpas habis, dan tentara Gelgel dapat ditawan dalam jumlah yang cukup besar pula.[7]
Setelah pertempuran sengit tersebut, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan kebijaksanaan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor agraris. Maka, pusat pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan agak ke pedalaman, di sebuah dataran perbukitan, tepat di desa Selaparang sekarang ini. Dari wilayah kota yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian, semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ibukota Kerajaan Selaparang inipun memiliki daerah bagian belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi, bertingkat-tingkat hingga ke hutan Lemor yang memiliki sumber mata air yang melimpah.[8]
Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan, Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat. Disebutkan pula bahwa seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu (1630 Masehi) daerah ini juga masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648 Masehi, putera mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Sulthan Selaparang yang memerintah seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.[9]
Keruntuhan Selaparang
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangga, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari bagian barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Pulau Bali) secara bergelombang, dan selanjutnya mendirikan koloni di kawasan Kota Mataram sekarang ini. Kekuatan itu kemudian secara berangsur-angsur tumbuh berkembang sehingga menjelma menjadi kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri sekitar tahun 1622 Masehi. Kerajaan ini berdiri lima tahun setelah serangan laut pertama Kerajaan Gelgel dari Bali Utara atau dua tahun sebelum serangan ke dua yang dapat ditumpas oleh pasukan Kerajaan Selaparang.[10]
Namun, bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba adalah kekuatan asing, yakni Belanda, yang tentunya sewaktu-waktu dapat melakukan ekspansi militer. Kekuatan dan tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Oleh sebab itu, sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan laskar kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.[11]
Dalam upaya menghadapi masalah yang baru tumbuh dari bagian barat itu, yakni Kerajaan Gelgel, dan Kerajaan Mataram Karang Asem, maka secara tiba-tiba saja, salah seorang tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan bernama Arya Banjar Getas ditengarai berselisih paham dengan rajanya, raja Kerajaan Selaparang, soal posisi pasti perbatasan antara wilayah Kerajaan Selaparang dan Pejanggik. Arya Banjar Getas beserta para pengikutnya kemudian memutuskan untuk meninggalkan Selaparang dan bergabung dengan sebuah ekspedisi militer Kerajaan Mataram Karang Asem (Bali) yang pada saat itu sudah berhasil mendarat di Lombok Barat. Kemudian dengan segala taktiknya, Arya Banjar Getas menyusun rencana dengan pihak Kerajaan Mataram Karang Asem untuk bersama-sama menggempur Kerajaan Selaparang.[12] Pada akhirnya, ekspedisi militer tersebut telah berhasil menaklukkan Kerajaan Selaparang. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1725 Masehi. Sejak saat itu, Kerajaan Karang Asem dan dinasti abg menjadi penguasa barat dan timur juring di Lombok.[13]
Catatan Kaki
1.      ^ (Indonesia) Perlu diketahui juga bahwa salah seorang anggota wali sembilan (wali songo), Maulana Malik Ibrahim?beliau dipercaya juga sebagai yang tertua di antara anggota wali sembilan lainnya?pernah juga berda'wah di Pulau Lombok sebelum beliau pergi ke Pulau Jawa. Bukti bahwa Maulana Malik Ibrahim pernah berda'wah di Pulau Lombok adalah terdapatnya sebuah masjid kuno bernama masjid Maulana Malik Ibrahim di desa Pengkores, Lombok Utara, yang hingga saat ini masih berdiri dengan kokoh sebagai saksi da'wah Maulana Malik Ibrahim di lokasi tersebut.
2.      ^ (Indonesia) Ibrahim Husni. Draf Penelitian tentang Sejarah Nahdlatul Wathan dan Tuan Guru Kyai Hajji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Lombok Timur. 1982 (Tidak Diterbitkan). hlm. 1.
3.      ^ (Indonesia) Lalu Djelenga. Keris di Lombok. Mataram. 2002. Yayasan Pusaka Selaparang. hlm. 20.
4.      ^ (Indonesia) Usri Indah Handayani. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Mataram. 2004. Museum Negri Prov NTB.
5.      ^ (Indonesia) Ibrahim Husni. Loc. Cit...
6.      ^ (Perancis) Galih Widjil Pangarsa. Les mosquees de Lombok: Evolution architecturale et diffusion de l'islam. Archipel No 44, EHESS. Paris, 1992.
7.      ^ (Indonesia) Mohammad Noor, dkk. Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Pemikiran dan Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Logos Wacana Ilmu. Jakarta. 2004. hlm. 85.
8.      ^ (Indonesia) Ibid...
9.      ^ (Indonesia) Fathurrahman Zakaria. Mozaik Budaya Orang Mataram. Yayasan Sumurmas al-Hamidy. Mataram. 1998. hlm. 46. Lihat pula, http://en.rodovid.org/wk/Person:306608
10.  ^ (Indonesia) Mohammad Noor, Op. Cit, hlm. 86.
11.  ^ (Indonesia) Ibid...
12.  ^ (Indonesia) Ibid, hlm. 87.
13.  ^ (Indonesia) Ibid...

MAKAM WALI KETAQ



Banyaknya peziarah yang datang berziarah ke Makam Ketaq-tempat dimakamkanya Almarhum Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Sholeh atau Tuan Guru Lopan yang mengajukan permintaan untuk diberikan semacam kenang-kenangan atas perziarahannya ke makam beliau menyebabkan pihak keluarga almarhum berpikiran bahwa yang paling tepat untuk kenang-kenangan tersebut adalah tulisan yang berisikan kiprah kehidupan beliu sebagai seorang Ulama’sekaligus seorang tokoh sosial kemasyarakat di Pulau Lombok dengan berbagai aktivitas. Lebih-lebih para peziarah yang datang dari luar daerah seperti dari Banjarmasin, Banyuwangi, Banten, Jakarta dan daerah lainnya.

Di harapkan tulisan ini juga berfungsi sebagai upaya mengenang dan melestarikan jasa-jasa beliau hingga dapat dijadikan suri tauladan akan ketulusan, keikhlasan, dan ketidakpamrihan beliau dalam berdakwah menyuburkan pelaksanakan syariat Islam dikalangan para penganutnya. Perlu kita ketahui bahwa kiprah beliau bukan semata di bidang agama ( Islam ) tapi yang tak kalah pentingnya berbarengan dengan itu adalah upaya dibidang kesejahteraan sosial masyarakat Sasak dengan membangun mbung-mbung  (dam/bendungan) yang berskala kecil maupun cukup besar (Ukuran swadaya masyarakt kewtika itu) disamping juga merintis Pembuatan Jalan dan Jembatan, melakukan Penghijauan  diberbagai kebun-kebun milik rakyat maupun kawasan hutan di Pulau Lombok.

 
TUAN  GURU HAJI LALU MUHAMMAD SHOLEH (TGH LOPAN)




































Ayahandanya Hijrah Karena Muatan Politik
 
Ayahandanya bernama Lalu Adis alias Mamiq Gurnita, Ibundanya bernama Baiq Pon, putri dari Raden Purwana – Kampung Banjar Praya (Banjar Getas?). Lalu Adis sendiri lahir di Kampung Balung-Adang (Jl. Basuki Rahmat-Praya sekarang). Dalam usia muda Lalu Adis Hijrah ke Lopan karena terkait dengan situasi dan kondisi politik. Keamanan wilayah sering terganggu di Perbatasan Praya-Kopang-Mantang karena politik yang dijalankan kerajaan Karang Asem Singasari  yang menguasai bagian barat Pulau Lombok untuk memperluas wilayah kekuasaannnya. Ditempat tersebut (yang akhirnya dikenal dengan nama Lopan) Lalu Adis bersama sejumlah pasukannya yang mengawal perbatasan, akhirnya menetap. Kampung itulah yang hingga kini kita kenal dengan sebutan LOPAN.
Belum tertelusuri terlampau jauh keatas silsilah keturunan beliau mengingat terbatasnya sumber yang ada. Hanya saja seperti yang disampaikan oleh Lalu Ratmawa ( H.Lalu Abdul Azim-Praya ), Mamiq Kamalah dan H.Lalu Najwa – Lopan yang telah diriwayatkan oelh pendahulu-pendahulunya, bahwa Datu Panang merupak keturunan dari Datu Bayan merupakan yang memilih menetap di Praya (Gawah Brora). Konon beliu bersaudara 3 (Tiga) orang laki-laki. Seorang tinggal di Bayan (yang terbesar), lalu yang kedua yakni Datu Panang – di Praya dan yang paling bungsu akhirnya menetap di Mambalan – Gunungsari (Wawancara, 25-11-2000).
Sebuah cerita konyol terjadilah; Setelah beberapa lama beliau meninggal karena sakit, ( pasca Perang Praya I) satu pasukan dari salah satu wilayah desa Muncan – Kopang pro Karang Asem Singasari Cakranegara ketika meliwati Makam Ketaq, Melepaskan kemarahannya pada satu nisan makam Lalu Adis yang dipenggalnya dengan Pedang. Konon mereka melampiaskan kekesalan karena telah berbagai upaya mereka lakukan untuk mengalahkan Lalu Adis (Ayahanda Tuan Guru Lopan) dalam berbagai pertempuran namun beliu adalah lawan yang tetap tangguh. Sembari menghantam batu nisan tersebut mereka berkata: “Inilah  kuburan orang Praya yang senantiasa mengobrak-abrik pasukan kopang!”, katanya. Sampai sekarang ini, batu nisan yang terbuat dari batu Granit itu terpotong kepalanya.
Makam Lalu Adis di Montong Ketaq merupakan sejarah awal penggunaan bukit tersebut sebagai areal pemakaman tempat dimakamkannya Tuan Guru Lopan sekarang, Makam beliau berdampingan dengan makam Ayahnya (Lalu Adis ). Montong Ketak termasuk areal tanah pusaka milik sendiri. Adapun silsilah keturunan beliau yang diambil dari tiga Generasi Diatasnya dapat dilihat pada Gambar Berikut:
                                                                                                                     





Wednesday, August 27, 2014

MAKAM GHAUS ABDURRAZAK

Salah satu bukti utuh Tuan Guru 'Ghaus 'Abdurrazzāq' adalah Tokoh Penyebar Agama Islam pertama kali di Pulau Lombok yaitu Masjid Kuno Bayan Belek yang terletak di Lombok Utara "Bayan".
MASJID KUNO BAYAN BELEQ


Kabupaten Lombok Utara yang dimekarkan tiga tahun lalu, ternyata bukan saja kaya dari sisi budaya dan pariwisata, namun juga memiliki situs sejarah yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Situs yang dimaksud adalah Masjid Kuno Bayan Beleq, Desa Bayan Kecamatan Bayan, sebagai saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.
Masjid yang berdiri disebuah bukit dan dikelilingi beberapa cungkup makam para penyebar agama Islam ini,  diperkirakan dibangun ratusan tahun lalu, oleh seorang muballigh. Namun hingga saat ini belum ditemukan sumber tertulis siapa pendirinya dan pada tahun berapa didirikan. Yang jelas usia masjid yang kini dijadikan sebagai ikon pariwisata budaya ini sudah cukup tua.
Masjid kuno Bayan Beleq berukuran 9 X 9 meter persegi, dengan dinding rendah dari anyaman bambu. Sementara atapnya berbentuk tumpang yang tersusun rapi  dari bilah bambu atau dikenal dengan bahasa Dayan Gunung atap santek dengan lantai tanah yang dasarnya dari susunan batu kali.
TAMPAK MASJID DARI ARAH TIMUR
Masjid kuno ini selain sebagai ikon wisata, juga  diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq digambarkan dalam bentuk siluet bewarna merah sebagai integritas peradaban masyarakat Lombok Utara. Disebutkan, bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual.
TAMPAK MASJID DARI ARAH BARAT
Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno Bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.
Konstruksi Masjid Kuno Bayan memiliki filosofis tersendiri, yang  terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara.
Bila dilihat dari jarak dekat, masjid kuno Bayan Beleq tak ubahnya rumah-rumah di desa Bayan, yang bentuk bangunannya  serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin tidak akan mengira bahwa bangunannya merupakan sebuah masjid.
Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid serta makam beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal.

 
 
Blogger Templates