Social Icons

.

Friday, September 12, 2014

MAKAM BATU RITI LALU GEDE MAMBALAN



LALU GEDE MAMBALAN
MAKAM BATURITI MAMBALAN
(Seperti Diceritakan oleh TGH.Muhammad Najmuddin Makmun)
Di Desa Mambalan Lombok Barat, ada sebuah makam wali Allah yang terkenal ramai di ziarahi orang banyak, pemilik makam bernama “Lalu Gede” dalam bahasa sasaknya. Beliau berdakwah, mengajar mengaji di desa Mambalan dan sekitarnya. Sewaktu Lombok masih dijajah oleh pemerintahan Gusti Anak Agung Bali.

Lalu Gede memang merupakan wali Allah yang berpangkat tinggi, yang memiliki kekeramatan tinggi. Beliau secara lahiriah bergaul seperti adanya manusia biasa. Beliau membuat layangan dan layangan kapal. Semuanya ada maknanya. Bagi orang yang makrifat/waskita itu dimaknai bahwa kelak akan banyak pesawat terbang. Lalu Gede juga memelihara ayam jago dalam kurungannya, ayam yang siap diadu, semuanya berderet rapi di halaman rumahnya. Hal tersebut bertujuan untuk mengelabuhi petugas kerajaan Bali agar mereka mengira tempat itu adalah tempat perkumpulan orang yang gemar sabung ayam. Jadi mereka tidak mengira bahwa tempat tersebut tempat orang mengaji agama yang mengorganisir orang yang ingin memberontak terhadap kerajaan Bali. Akhirnya Lalu Gede tetap aman mengajar ngaji dan berkumpul membahas wacana keagamaan. Begitulah cara Lalu Gede menyembunyikan diri, menyamarkan diri karena tidak berani membuka rahasia Allah, kecuali rahasia rahasia yang ada izin Allah untuk dibuka atau diceritakan.

Sekarang kami ceritakan sebuah kisah Lalu Gede yang boleh diceritakan yang ada izin diceritakan dari Allah. Pada suatu hari Lalu De (sapaan untuk Lalu Gede), lewat disebuah sungai bertemulah ia dengan seorang perempuan yang sedang mencuci, Lalu De berkata kepada perempuan itu, “Ayo bu, ikuti aku berjalan”. “Anakku di rumah masih kecil kalau aku ikut nanti mereka menangis”, Jawab perempuan itu. Lalu De berkata,”tidak apa apa, dia menangis, ayo ikut saja denganku”. Akhirnya perempuan tersebut ikut berjalan dibelakang Lalu De. Kata Lalu De: “ikuti aku berjalan, kemana langkah kakiku itu harus kamu ikuti dan kamu injak bekasnya”. Maka perempuan tersebut melangkah dibelakangnya tidak berani menengok ke yang lain karena khawatir salah menginjak. Beberapa saat kemudian Lalu De berhenti melangkah, perempuan itu tiba-tiba melihat sebuah rumah besar lagi indah yang memiliki pengawal atau penjaga. Perempuan itu terdiam di luar terkagum kagum karena baru pertama kali melihat rumah seperti istana raja. Lalu De kemudian berkata:”Inilah yang namanya Baghdad, tunggu saya di luar, aku akan masuk ke dalam”. Beberapa lama kemudian Lalu De keluar dari istana kemudian mengajaknya pulang seperti cara kedatangannya tadi. Tiba-tiba sudah sampai di rumah. Sebelum berpisah maka Lalu De berpesan:”Jagan kamu bercerita ya, karena kalau kamu bercerita maka bisa memendekkan umur dan cepat mati”.”Ya” kata perempuan itu. Ketika dilihat datang oleh orang banyak maka perempuan tersebut langsung ditanya: “Hai, sudah kemanakah kamu meninggalkan anakmu, apakah dia tidak akan menangis nanti sebab lama sekali kamu tinggal?” Maka perempuan tersebut mengoceh bercerita: “Saya sudah diajak jalan oleh Lalu De ke sebuah desa yang sangat indah. Kata lalu De daerah itu bernama Budad, Oh, orang banyak menyahut:” Bughdad”, Ya, maksudku Bughdad kata perempuan itu. Karena bercerita tentang rahasia Tuhan maka tidak berapa lama perempuan tersebut dicabut umurnya oleh Allahu Ta’ala. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Demikianlah sebuah cerita yang saya (TGH.Muhammad Najmuddin Makmun) terima dari seorang yang saleh, sahabat dekat Lalu De.
Pada kesempatan lain Lalu De berkata kepada salah seseorang yang akan berangkat haji ke Mekkah:”Besok tunggu aku di Mekkah di dalam Masjidil Haram pada hari ini dan tanggal ini (sambil menyebutkan hari dan tanggal) aku akan kesana nanti”. Benar juga begitu tiba pada hari dan tanggal dia disuruh menunggu itu, datanglah satu rombongan jamaah haji masuk kedalam Masjidil Haram, dikawal oleh petugas-petugas. Kata orang banyak:”Raja Baghdad telah tiba, Raja Baghdad datang berhaji”. Begitu orang Lombok itu mendekat maka dia diajak berbicara:”Aku ini Lalu Gede, kalau di Baghdad namaku Sayyid Abu Rijal”.

Begitulah perjalanan kehidupan para Wali Allah. Di satu tempat namanya berbeda dengan di tempat lain. Disini namanya lain, padahal raga hanya satu adanya. Namun bisa dilihat orang menjadi banyak. Kesemuanya tergantung tingkat karamah masing-masing Wali tersebut. Seperti yang di tegaskan oleh Syekh Ibrahim al-Laqqaniy:
“Nyatakanlah dengan pasti akan adanya kekeramatan bagi para Wali Allah itu. Dan Barangsiapa yang menyatakan bahwa karamah para Wali itu tidak ada maka buanglah pernyataan itu”
Begitulah kata Syeikh Ibrahim al-Laqqaniy dalam Matn al-Jauharah

{Dikutip dari Kitab Rahasia Teganang Gining (Berkeliling Mencari Sesuap Nasi)} Jilid I, Ma’had Darul Muhajirin al-Islamiy Praya Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, 1425/2004. H; 26-28 diterjemahkan oleh Abdul Bari N. dan Hj. Mardhatillah 11 februari 2009


Kisah Pengajian Ghaib TGH. Sakaki Umar dengan Waliyulloh Lalu Gede(TG. Abdullah) Mambal

Dalam suatu pengajian yang dihadiri oleh para orang tua di suatu kampung, TGH. Sakaki Umar pendiri Pondok Pesantren Ad Diinul Qayyim Kapek Gunungsari membuka pengajian dengan membahas masalah sholat. Pada saat membahas masalah sholat tersebut kemudian dia membacakan suatu hadits yang artinya: “Siapa-siapa yang meninggalkan sholat secara sengaja maka ia adalah kafir yang nyata.”(Al Hadits)
Untuk menekankan hadits yang telah dibaca tersebut, TGH.Sakaki Umar menambahkan dengan kata-kata: “siapa-siapa, siapapun orangnya adalah sama di dalah hukum”.                                                                                                    
Salah seorang jamaah yang hadir ketika itu bertanya:” jadi Tuan Guru, Siapa-siapa yang meninggalkan sholat secara sengaja maka ia adalah kafir?”  dijawab oleh TGH. Sakaki umar dengan jawaban yang sama:” siapa-siapa, siapapun orangnya adalah sama di dalah hukum”.
Jamaah yang bertanya tadi kemudian melanjutkan pembicaraannya;” dulu Lalu Gede (TG. Abdullah*) yang di Mambal itu disaat waktu sholat Jum’at tiba, dia tidak melakukan sholat malah dia membuat mainan anak-anak seperti Layang-layang, kincir dan lain-lain”.
TGH. Sakaki Umar menjawab:” siapapun jua, jangankan Cuma Lalu Gede itu, siapapun sama!.”
Pada malam harinya disaat sedang berdzikir khusuk di rumahnya dan sudah memasuki alam Sirri (pikiran tertuju hanya kepada Alloh SWT semata dan melupakan alam dunia yang fana ini), TGH. Sakaki Umar di datangi oleh seseorang yang belum pernah di kenal selama ini. Kemudian terjadilah dialog:
TGH. Sakaki Umar     :”Siapa anda?”
Lalu Gede                     :”saya adalah orang yang anda anggap kafir itu, yang perlu anda ketahui  bahwa saya tidak cocok sujud(sholat) di Lombok ini”.
Kemudian Lalu Gede balik bertanya :” apa yang anda ajarkan?”.
TGH. Sakaki Umar     :”Kitab Riyadus Sholihin”
Lalu Gede                   :”buka kitab anda, sekarang saya ajarkan!”
Pada saat itu juga TGH. Sakaki Umar di ajarkan kitab Riyadus Sholihin oleh Lalu Gede sampai
Khotam. Setelah khotam kitab Riyadus Sholihin kemudian dilanjutkan dengan belajar Imlak
(belajar menulis bahasa Arab secara benar atau menulis kaligrafi Arab indah) pada malam itu
juga.

Mulai malam itu sampai 7 malam selanjutnya, kamar yang dipakai pertemuan tersebut masih mengeluarkan aroma yang sangat wangi yang berbeda dari aroma wewangian yang di perjual belikan di toko-toko ataupun di swalayan.

Sejak kejadian alam ghaib yang di alami oleh TGH. Sakaki Umar tersebut, itulah awal mula terjalin hubungan silaturrahmi ghaib yang sangat intens antara kedua tokoh tersebut. Sehingga ketika TGH. Sakaki Umar akan berangkat menunaikan ibadah haji kembali ke Makkah, beliau pergi berziarah kemakam Lalu Gede (TG. Abdullah). Beliau merasa sangat segan/pakewuh bila tidak berkunjung menziarahi makam Lalu Gede tersebut. Hal ini beliau lakukan hingga akhir hayat TGH. Sakaki Umar.

Kisah ini dituturkan oleh TGH. Abdul Wahid, M.Si (santri yang sering mendampingi TGH. Sakaki Umar kemanapun pergi termasuk yang mengantarkan TGH. Sakaki Umar berziarah ke makam Lalu Gede di Makam Batu Riti  Mambalan Gunungsari). (Alfuad Gapuki)

*ketika peristiwa tersebut berlangsung, Lalu Gede(TG. Abdullah) sudah wafat semasa penjajahan Belanda dan TGH. Sakaki Umar belum tahu siapa itu Lalu Gede.

Tambahan informasi tentang Lalu Gede
Datu lopan (TGH. Lalu Muhammad Shaleh) selama masih hidup seringkali datang berkunjung ke Mambalan menemui Tuan Guru Abdullah (Lalu Gede). Kedua Waliyulloh ini masih ada hubungan keluarga.

Datu lopan dan Lalu Gede di dalam buku manakib 15 ulama sufi Indonesia masing-masing lebih dikenal dengan nama Al habib Muh. Shaleh Lopan Lombok dan  Al Habib Abdullah Lombok. Selain kedua ulama tersebut, tercatat pula tiga ulama lainnya yang berasal dari lombok masing-masing TGH. Badrul Islam (putra Tuang Guru Umar Kelayu), TGH. Ali Batu Sakra dan syekh An Nahwawi Ampenan.

dikutip dari buku: Tuan Guru Lopan: Waliyullah dengan Kiprah dan Karomahnya oleh Drs.H.Lalu Muhammada Azhar, SH.,M.Si, Cakra Darma Aksara, Mataram,edisi 2010

Wednesday, September 3, 2014

SEJARAH TUAN GURU HAJI UMAR KELAYU







Diceritakan oleh TGH Bahaudin tentang karomah Datuk Umar, suatu kali pada bulan Maulid Tuan Guru Umar Kelayu menghadiri acara di 40 desa dalam waktu yang bersamaan. Syekh Bawean (Madura) juga pernah menceritakan, ketika makam beliau di Mu’ala Makkah di bongkar setelah 60 tahun wafatnya TGH Umar Kelayu, jenazahnya masih utuh. Itulah tanda-tanda kemuliaan/karomah yang diberikan oleh Alloh SWT kepada beliau.







Tuan Guru Haji Umar dilahirkan di Desa Kelayu Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur NTB sekitar tahun 1208 H. (1789 M) dari pasangan Kyai Retane alias Syekh Abdullah dan Hajjah Siti Aminah. Dalam konteks sosial-keagamaan leluhurnya terkenal ‘alim dan taat menjalankan syari’at agama Islam. Mereka tergolong bergaris keturunan darah biru kerajaan Selaparang, yang berasal dari keturunan Penghulu Agung kerajaan Selaparang yaitu Kyai Nurul Huda, ia mempunyai seorang putra yang bernama Kyai Ratane, Kyai Ratane mempunyai tujuh orang anak, salah satunya adalah  TGH, Umar Kelayu. Kyai Nurul Huda dikenal juga dengan Datuk Uda, adalah kakek dari TGH Umar Kelayu yang merupakan putra dari Penghulu Agung Kerajaan Selaparang.  Sedang ayah dari TGH Umar adalah Kyai Ratane Yang kemudian juga diangkat sebagai Qadi di Selaparang.
Menurut riwayat, sewaktu TGH Umar masih dalam kandungan, pada tanggal 27 Ramadhan 1207 H. ketika ibundanya mengambil air wudlu’ untuk persiapan sholat Subuh menjelang fajar tiba, ia melihat cahaya yang amat menakjubkan di sekitar lumbung di halaman rumahnya. Setalah selesai berwudlu’ ia naik ke gelamparan lumbung dan melihat seluruh benda-benda di sekelilingnya bersama-sama merunduk, seolah-olah sedang bersujud menyembah Allah SWT.” Masya Allah! Apa yang terjadi?”  pikirnya, Sejenak beliau tertegun dan mengingat cerita-cerita leluhurnya yang sering didengarnya semenjak kecil, bahwa salah satu pertanda malam Lailatul Qadr adalah adanya pandangan menakjubkan yang hanya dilihat oleh orang yang dikehendaki Allah SWT. Seketika itu pula ia teringat pada anak yang dikandungnya yang baru berusia beberapa bulan, dan seraya ia berdo’a:  “Ya Allah, ku mohon kepada-Mu, berikanlah karunia-Mu berupa iman yang kuat kepada anak yang kukandung ini agar ia istiqomah dalam kabajikan untuk mengabdi kepada-Mu ”. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki dan diberi nama Umar. Ibunda yang melahirkan beliau wafat di Kota Makkah pada malam Jum’at tanggal 7 Dzulqaidah 1317 H. TGH Umar bersaudara kandung sebanyak tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan.
Selama hayatnya, TGH Umar pernah menikah tujuh kali. Pertama, menyunting gadis Kamasan Lombok Barat bernama Asiah, yang setelah menunaikan ibadah Haji bernama Hajjah Asiah. Hj Asiah melahirkan beberapa anak, yang pertama laki-laki bernama Muhammmad Rais, sehingga di Kelayu dan di Makkah beliau lebih akrab di panggil Ma’ Rais. Anak-anak yang dilahirkan sangat jarang yang berumur panjang, karena rata-rata meninggal sewaktu belum balig, kecuali yang bungsu bernama Akar. Setelah dewasa dan menunaikan ibadah Haji, Akar bernama TGH. Badarul Islam (sebutannya: Tuan Guru Badar ) TGH Badar kemudian menikahi putri dari Jero Mihram alias Haji Muhammad Kasim yang bernama Hj. Aminah sekitar tahun 1904. Sejak pernikahan tersebut TGH Badar tinggal berumah di Pancor.
TGH Umar menikah di Kota Makkah dengan Hj. Raden Roro ( Rr) Amnah binti Syekh Raden Tayyib berasal dari Banyuwangi Jawa Timur.  Hj.  Rr. Amnah adalah cucu dari Temenggung Banyuwangi yang bernama Temenggung Raden Pringgokusumo. Beliau dikarunia dua orang anak laki-laki dilahirkan di Kota Makkah pada hari Ahad tanggal 25 Robiul Akhir 1320 H. bernama Haji Ahmad Badarudin yang kemudian dimasa tuanya lebih di kenal dengan Haji Ahmad Tret-tet-tet. Di Pulau Lombok Haji Ahmad Tret-tet-tet sangat terkenal dan disegani karena karomahnnya. Salah satu karomahnya yang disaksikan orang banyak yaitu ketika mengantar kepergian TGH Umar ke Labuhan Haji pada pemberangkatan hajinya. Ketika terakhir kali keberangkatannya  ke Tanah Suci Makkah  (Januari 1930), kapal Haji yang mengangkut ayahandanya tidak dapat angkat jangkar pada waktu yang telah dijadwalkan. Konon, itu disebabkan haji Ahmad ingin ikut tetapi tidak diberikan. Pada saat itu beliau menghilang selama dua hari dua malam. Akhirnya kapal haji dapat diberangkatkan setelah beliau mengikhlaskan kepergian ayahandanya. Haji Ahmad telah wafat di Pulau Lombok pada tahun 1988 dan dimakamkan di Karang Kelok Mataram.
Istri-istri TGH Umar selain dari dua orang yang tersebut di atas ada juga dapat melahirkan anak dan ada juga yang tidak dapat melahirkan anak. Istri-istri beliau yang dapat melahirkan anak masing-masing : (1) Hajjah Aisyah dari Kelayu dinikahi pada bulan Jumadil Awwal 1324 H. beliau dikarunia dua orang anak, yaitu yang laki-laki bernama Haji Abdullah yang dilahirkan di Kota Makkah pada tanggal 19 Syawal 1347 H. dan yang perempuan bernama Hajjah Hurul’ain,  (2) Hajjah Aminah binti KH. Khalil Bangkalan Madura dan dikaruniai seorang anak bernama Hajjah Hafsah. (3) Hajjah Surati dikaruniai dua orang anak masing-masing Hajjah Subuhiyah dan Hajjah Husniyah. Istri-istri beliau ada sebagian telah wafat semasa hayat TGH Umar,  ada yang sudah dicerai sebelum wafatnya TGH Umar.

Pendidikan Dan Gurunya
Silsilah Guru-Murid

TGH Umar Kelayu


TGH Umar Kelayu mula-mula belajar membaca Al-Qur’an pada Ayahandanya Kyai Ratane, kemudian pada Haji Muhammad Yasin yang juga berasal dari Desa Kelayu. Kemudian berguru pada Tuan Guru Haji Mustafa di Sekarbela yang ketika itu disebut-sebut masyarakat ahli Nahwu dan kepada Tuan Guru Haji Muhammad Amin di Sesele untuk belajar Tafsir, Qawaid, dan Ilmu Nahwu,
Ia menunaikan Ibadah haji pertama kalinya ketika berumur 14 tahun, selama di Makkah ia mengikuti pengajian halaqah di Masjidil Haram, dan tinggal di sini selama 15 tahun, di antara gurunya adalah Syekh Musthofa Bin Muhammad Al-Afifi, salah seorang ulama ahli hadis. Syekh Mustafa Al-Afifi adalah guru dari para ulama Nusantara abad 19 M, beberapa di antaranya adalah : Hasan Mustafa Garut (1268H./1852M–1348H./1930M) ulama yang produktif menulis dalam bahasa Sunda, KH. Ahmad Khalil Bangkalan (1235H/1820M–1341H/1923M) dikenal sebagai guru para ulama Madura.



 TGH Umar juga berguru pada Syekh Zainuddin Sumbawa dan Syekh Abdulah Karim Daghestan.  Syekh Abdul Karim al-Deghestan juga merupakan guru ulama  Indonesia, beberapa ulama terkenal di Indonesia pernah berguru padanya,  seperti Kyai Mugni al-Batani dari Banten.
Sekembalinya dari menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah, pada usia kurang lebih 29 tahun, beliau mulai membuka pengajian halaqah ala Masjidil Haram di teras rumahnya Bawa ’Sabo Gubug Tenga’ Kalayu. Dalam kurun waktu yang tidak lama, nama TGH Umar sudah tersebar luas di pulau Lombok sehingga murid-murid berdatangan dari berbagai desa baik di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah maupun Lombok Barat untuk menuntut ilmu agama di Desa Kelayu.
  Setelah beberapa tahun memberikan pengajian pada masyarakat Lombok, TGH Umar berangkat ke Makkah untuk kedua kalinya. Di Tanah suci Makkah beliau juga mengajar pada pengajian halaqah ma’had di Masjidil Haram. Pada waktu itu banyak warga asal Melayu yang tinggal di Kota Makkah dan sebagian besar di antara mereka belum memahami bahasa Arab secara aktif. Sementara itu pengajian halaqah di Masjidil Haram menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab yang diajarkan dengan pengantar bahasa Arab. Hal ini mengakibatkan mukimin-mukimin yang berasal dari Melayu (Nusantara) tidak dapat mengikuti pengajian yang mereka harapkan dan niatkan dari tanah air. Atas dasar itu, TGH Umar juga membuka pengajian halaqah menggunakan pengantar bahasa Melayu. Menurut riwayat, ia lebih banyak  memberikan pengajian di Makkah daripada di Lombok, bahkan di Kota Makkah beliau membuka toko Kitab. Karena ketinggian ilmunya, TGH Umar diangkat sebagai Imam di Masjidil Haram sampai Akhir hayatnya.
Beliau adalah seorang ulama  Suni, dalam pengajiannya beliau memfokuskan pada pelajaran Fiqih Mazhab Imam Syafi’i. Salah satu kitab Fiqih yang beliau ajarkan waktu itu adalah “Fathul Qorib”. TGH Umar juga mengarang Syair dan Nadzom-sejenis kitab Barzanji yang berisi pujian-pujian kepada Nabi Tabi’it Tabi’in, serta Kitab Burdah, berupa kumpulan do’a-do’a sholawat, sayangnya  sampai saat ini belum di temukan kitab-kitab karangannya tersebut.
Selain Kitab Burdah, hingga akhir hayatnya baru ditemukan dua buah Kitab yang dikarang, yaitu Kitab Usuludin Man©arul Amra« yang ditulis pada tahun 1295H, kitab ini menjelaskan tentang konsep-konsep ketuhanan, dalam aliran Asy’ariyah, di dalamnya terdapat penjelasan tentang sifat-sifat 20. Kalau diperhatikan secara seksama kitab ini banyak mengutip dari tulisan Syekh Zainuddin Sumbawa dari kitab Sirajul Huda yang merupakan syarah dari Ummu al-Barahin karya Imam Sanusi. Dan Lu’lu’il Masyhur yang ditulis pada tahun 1342 H, kitab ini menjelaskan tentang sejarah Rasulullah SAW dan ditulis ulang oleh Muh. Jamal bin Muhammad Amir tahun 1348 H. Kedua kitab ini sudah dicetak di percetakan Mulia Surabaya pada tahun 1369H/ 1949 M.
Murid-muridnya
TGH Umar mempunyai murid yang cukup banyak dari berbagai negeri dan daerah seperti : Palembang, Johor, Kedah, Jawa, Bali, Perak, Lampung dan Lombok. Murid-muridnya yang terkenal dan menjadi ulama’ besar di luar Lombok antara lain: Syekh Muhammad Zen Bawean (Makkatul Mukarramah),Tuan Guru Haji Abdul Patah Pontianak (kalimantan), Tuanku Haji Daud Palembang (Sumatra), Buya Haji Nawawi Lampung (Sumatra), Gurutta H. Abdurahim Kedah, KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdatul Ulama). Sedangkan yang dari Lombok sebagai penerus perjuanganya antara lain; TGH. Rais Sekarbela, TGH. Saleh Hambali Bengkel, TGH. Abdul Hamid Pejeruk Mataram, TGH. As’ari Sekarbela, TGH. Abdul Karim Praya, TGH. Mali Pagutan, TGH. Muhammad Saleh alias Tuan Guru Lopan, TGH. Syarafuddin Pancor, TGH. Badarul Islam Pancor (putra beliau), TGH. Muhammad Ali Kelayu  (Keponakan), TGH. Abdullah Kelayu, TGH. Zainuddin Tanjung, TGH. Mohammad Thohir Mamben, TGH. Nuh.
Dari murid-murid TGH Umar Kelayu tersebut banyak yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting di organisasi kemasyarakaatn Islam seperti NU dan NW di Lombok, juga banyak yang kemudian menjadi guru tarekat.
Para Tuan Guru ini kemudian selain membentuk jaringan yang lebih luas, mereka juga memiliki peran yang cukup penting dalam penguatan ajaran Islam pada abad ke 19 dan awal abad 20 di Lombok. Di antara mereka ada yang mendirikan pondok pesantren, dan melakukan rihlah dakwah. Selain keterlibatan mereka dalam transmisi ke-Ilmuan, para Tuan Guru juga terlibat dalam Perang Lombok melawan penguasaan Bali-Sasak. Pada tahun 1891 -1894 M, dimana masyarakat Islam bersatu di bawah komando para Tuan Guru melawan penguasaan Bali-Sasak. Kalaupun pada akhirnya Belanda turut campur dalam mengusir penguasaan asal Bali di Lombok. Setelah penguasaan Bali dapat dilumpuhkan di Lombok, Belanda yang tadinya sekutu orang-orang muslim, berbalik menjadi penjajah baru di Lombok. Sejak itulah awal mulainya koloni Belanda berkuasa di Lombok. Para Tuan Guru bersama murid-muridnya melakukan perlawanan terhadap Belanda sampai Penjajah meninggalkan Gumi Sasak   (Tanah Lombok).
Adapun sahabat karib TGH Umar yang terkenal seperti: Syekh Sayyid Yamani, Syekh Umar Bajunet Hadrami, Syekh Abdul Kadir Mandailing, Syekh Muhtar Bogor, Syekh Jamal Maliki (Mufti Mazhab Maliki), KH. Muhammad Khalil Bangkalan Madura, TGH. Muhammad Sidik Karang Kelok, TGH. Ibrahim Tanjung Luar, dan TGH. Muhammad Mertak.
Setelah cukup lama mengajar mengaji dan mengadakan Pembaharuan di tengah-tengah masyarakat baik di Lombok maupun Makkah, kondisi kesehatan TGH. Umar mulai menurun sejak tahun 1928 M. Sejak saat itu beliau istirahat memberikan pengajian di luar rumah bahkan ke masjid pun hanya pada hari Jum’at. Pada saat itu, kondisiya sudah cukup uzur. Malahan ketika pergi dan pulang dari masjid beliau diusung menggunakan juli (yaitu kursi rotan yang dipasangkan dua buah kayu panjang pada sisi kanan dan kirinya , dan diikat menggunakan tali ) serta diangkat oleh para jama’ahnya. Ini adalah salah satu bukti kecintaan Tuan Guru Umar terhadap umatnya, sekaligus bukti rasa tanggung jawabnya dalam membina umat Islam.
 
Kiprah Tuan Guru Di Masyarakat
Tuan guru memiliki pengaruh yang besar dan menduduki posisi yang sangat strategis dalam masyarakat sasak. Karisma dan status Tuan Guru semakin meningkat seiring dengan bertambah luasnya wilayah dakwah dan semakin banyaknya pengikut Tuan Guru. Masyarakat sasak memiliki pandangan sendiri tentang Tuan Guru, besarnya pengaruh tuan Guru tidak dapat di lepaskan dari sikap dan pemahaman masyarakat sasak tentang Tuan Guru.
Tuan Guru adalah sebutan dari seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi yang diberikan oleh masyarakat sebagai wujud dari pengakuan mereka terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki seseorang. Pada umumnya mereka yang diberikan gelar tuan guru adalah seseorang yang pernah belajar di Timur Tengah (belajar pada ulama’-ulama’ terkenal) atau minimal pernah berhaji, memeiliki jama’ah pengajian  (pengajar majlis ta’lim di beberapa tempat), atau pondok pesantren dan memiliki latar belakang hubungan dengan seseorang yang berpengaruh, atau boleh jadi karena orang tuanya adalah tuan Guru.
Pada abad ke 18 sampai awal abad ke 20, mereka yang menjadi Tuan Guru adalah yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut antara lain : Pertama, memiliki pengetahuan memeadai tentang ilmu-ilmu ke-Islaman dan berbagai ajaran-ajarannya. Kedua, pernah belajar kepada ulama’-ulama’ terkenal di Timur Tengah (khususnya Haramain). Ketiga, memperoleh pengakuan dari masyarakat. Pengakuan masyarakat menjadi sangat urgen bagi eksistensi ke-Tuan Guru-an seseorang. Keempat, memiliki karomah.  Seseorang dikatakan memiliki karomah apabila ia dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Allah SWT. Setelah abad ke 20 persyaratan-persayaratan ini semakin melunak untuk menjadi tuan Guru. Tidak diharuskan pernah belajar di Timur Tengah, akan tetapi dia tetap haji dan tidak mesti memiliki karomah, asalkan memiliki pondok pesantren atau karena orang tuanya Tuan Guru.



Dalam kurun waktu dari abad ke 18 sekarang, seiring dengan menguatnya pengaruh dan popularitas tuan Guru bahwa dalam masyarakat sasak telah terjadi perubahan struktur social. Sebelumnya dalam masyarakat sasak terdapat empat golongan struktur sosial, secara berurutan adalah  (1) Golongan Raja dan Keluarga raja, termasuk di dalamnya keturunan-keturunanya. (2) Golongan Ningrat atau raden, mereka ini bangsawan sasak yang bergela lalu atau Raden. (3) Golongan pruangse,  orang kebanyakan. (4) adalah golongan jajar karang (termasuk juga budak . Sekarang yang menggantikan struktur sosial tersebut adalah (1) Tuan Guru, tokoh agama (Ulama) (2) Tuan Haji, mereka orang kebanyakan yang terdiri dari, mereka yang mampu secara finansial (Orang kaya,Pemilik modal, para bangsawan, pegawai negeri atau yang sederajat dengannya),dan (3) Non-Haji, mereka yang secara finansial berada di bawah garis kemiskinan, yang tidak mampu, pekerja, buruh kasar, dan yang sederajat dengannya.
Tuan guru menjadi figur yang utama dan memiliki pengaruh yang kuat pada masyarakat sasak Lombok salah satunya TGH Umar Kelayu. Beliau sosok yang sangat sederhana, karena bisa memberikan keteladanan pada Umat, ucapan dan tindakannya seirama sehingga menjadi sosok yang paling disegani, dituruti dan di taati dalam kultur masyarakat sasak. Ulama’ besar ini (Datuk Umar) punya prinsip “Hidup untuk Berjuang bukan Berjuang untuk Cari Hidup”. Bahkan jejak beliau sangat terasa dan membekas pada diri keluarga, jamaah dan ummat sampai saat ini. Kita bisa saksikan bagaimana masyarakat Kelayu yang punya garis keturunan langsung dengan beliau, hidup dalam pengaruh nilai-nilai Islam. Beliau tidak mewariskan harta, jabatan, pangkat, tetapi wewariskan keluhuran budi, keikhlasan dalam setiap Aspek ibadah dan ketaatan. Perjalanan dakwahnya sangat terasa sampai luar negeri (Timur Tengah), Nusantara, dan kampung halamannya (Sasak- Lombok). Dengan melahirkan dan membesarkan Tuan Guru yang ada di Lombok.
Pada tahun 1929 M. TGH. Umar meminta isteri dan anak-anaknya untuk berangkat menunaikan ibadah Haji ke Baitullah di Makkatul Mukarramah. Namun isteri dan anak-anaknya tidak mau berangkat tanpa keikutsertaan TGH Umar. Setelah melalui berbagai pertimbangan, TGH. Umar pun bersedia turut serta walaupun dengan sangat berat hati meninggalkan jama’ah dan masjid yang dibangun belum selesai 100%. Dengan firasat ke ulama’an dan karomahnya, beliau sengaja mengundang jama’ahnya datang ke masjid pada sore hari Jum’at di bulan Rajab tahun 1348 H. (Desember 1929 M) untuk menyampaikan kata-kata perpisahan kepada jama’ah yang dicintainya.
Jama’ah pun berdatangan dari luar desa Kelayu sehingga memenuhi halaman masjid sampai ke pekarangan kantor desa dan pasar Bawa’ Bage serta melimpah sampai ke jalan menuju pasar besar Tago’. Sebelum menyampaikan kalam-kalam terakhirnya, para jama’ah telah melihat dengan jelas deraian air mata telah membasahi pipinya, namun para jama’ah belum mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh sang Guru. Ketika saatnya tiba, beliau berpidato sambil menangis yang mengakibatkan kata-kata agak sulit keluar dari bibirnya.
Dalam tausiyah yang beliau sampaikan dapat dipetik beberapa benang merah, yaitu: (1) Menyampaikan permohonan ma’af atas segala kekeliruan selama hayatnya, (2) Jika wafat di Lombok, agar dimakamkan di dekat mimbar masjid Al-Umary kelayu, (3) Menyerahkan kepengurusan Masjid kepada penghulu desa Haji Muhammad Ali, (4) mempersaudarakan seluruh murid-muridnya dengan mengikat janji agar semua saling memberi syafa’at kelak di hari kemudian (Yaumul ba’ts padang mahsyar), dan (5) Mengumumkan kepergiannya ke tanah Suci Makkah serta mohon diri dari para jama’ahnya karena kemungkinan tidak kembali lagi ke pulau Lombok. Setelah mendengar kata-kata terakhir itu, deraian air mata dari seluruh jama’ah tak dapat dibendung.  Satu tahun setelah kedatangannya di Mekkah, TGH Umar Wafat dalam usia 145 tahun tepatnya tanggal 2 Rabiul Akhir 1349H./1930M. di kediamannya kampung misfalah, Makkah, beliau dimakamkan di Ma’la berdekatan dengan makamnya Ibnu Hajar al-Haithami.
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 1998, cet. Ke-4.
Budiwanti, Erni, Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima, Yogyakarta: LkiS, 2000.
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES, 1982.
Fadli, Adi, Sejarah Pendidikan Islam di Tanah Sasak, makalah seminar tentang Sejarah Pendidikan Islam di Lombok, di Ponpes al-Asma’ al-Husna Tanak Beak Pemangket Lombok Tengah, September 2006.
Fadly, Ahyar, Islam Lokal: Akulturasi Islam di Bumi Sasak, Bagu: STAIIQ Press, 2008.
Fatmawati, Siti, “Tarekat dan Pembinaan Akhlak: Studi Kasus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pesantren Darul Falah Pagutan Lombok”, dalam Jurnal Ulumuna, Mataram: STAIN Mataram, 2002.
Jamaluddin, Sejarah Sosial Islam di Lombok tahun 1740-1935 (Studi Kasus terhadap Tuan Guru),Jakarta; Kementerian Agama Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, 2011.
Salam, Solichin, Lombok Pulau Perawan: Sejarah dan Masa Depannya, Jakarta: Kuning Emas, 1992.
Zailani, Kamaruddin, Teologi Waktu Telu, Yogyakarta: UIN Suka, 2002, tesis.
Zakaria, Fathurrahman, Mozaik Budaya Orang Mataram, Mataram: Sumurmas al-Hamidi, 1998.



 
 
Blogger Templates